Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

06 December 2024

Apa Itu Impulse Response pada efek gitar

 

Impulse Response (IR) pada efek gitar adalah representasi digital dari bagaimana sistem audio, seperti amplifier gitar atau speaker (biasanya dengan mikrofon), merespons sinyal impuls. Dalam konteks efek gitar, IR digunakan untuk mensimulasikan karakteristik suara amplifier dan speaker tertentu. Ketika gitar dimainkan melalui sistem, sinyal suara akan mengalami modifikasi berdasarkan sifat dari amplifier, speaker, dan mikrofon yang digunakan. Impulse response menangkap semua aspek dari sistem ini—termasuk frekuensi, dinamika, dan resonansi—sehingga memungkinkan para gitaris untuk menggunakan simulasi yang sangat akurat dari berbagai setup gitar tanpa memerlukan peralatan fisik yang besar.

Cara Kerja Impulse Response pada Efek Gitar:

  1. Pengukuran dengan Impuls: Impulse response untuk efek gitar biasanya dimulai dengan mengirimkan sinyal impuls (seperti klik atau noise putih) ke dalam sistem audio yang ingin disimulasikan, misalnya ke dalam sebuah amplifier gitar dan speaker yang terpasang mikrofon.

  2. Respon Sistem: Setelah impuls diberikan, sistem audio (amplifier dan speaker) akan merespons dengan menghasilkan suara berdasarkan karakteristik mereka. Respon ini termasuk bagaimana sistem mengolah sinyal (misalnya, penguatan frekuensi tertentu, distorsi, atau warna tonal lainnya) serta bagaimana ruang di sekitar mikrofon mempengaruhi suara.

  3. Rekaman Impulse Response: Respon dari sistem audio ini kemudian direkam oleh mikrofon dan digunakan untuk menghasilkan impulse response yang menggambarkan karakteristik suara yang dihasilkan.

  4. Penggunaan dalam Simulasi: IR yang telah direkam ini bisa digunakan dalam perangkat lunak (seperti plugin atau amp sim) atau hardware (seperti kabinet digital atau unit efek) untuk mensimulasikan setup gitar tertentu. Dengan cara ini, gitaris bisa mendapatkan suara dari amplifier atau speaker legendaris tanpa perlu memiliki peralatan fisik tersebut.

Kegunaan Impulse Response pada Efek Gitar

  1. Simulasi Amplifier dan Kabinet Gitar: Dengan menggunakan IR, gitaris dapat mensimulasikan berbagai jenis amplifier dan kabinet gitar, dari yang klasik seperti Marshall atau Fender, hingga setup modern atau eksperimental. Misalnya, menggunakan IR untuk mengubah suara gitar agar terdengar seperti dimainkan melalui amplifier Vox AC30 atau Mesa Boogie tanpa perlu membawa peralatan fisik tersebut.

  2. Portabilitas dan Kemudahan: IR memungkinkan gitaris untuk membawa berbagai suara amplifier dalam bentuk file digital, menghemat ruang dan beban fisik, ideal untuk rekaman atau konser dengan ruang terbatas. Hal ini memberikan fleksibilitas luar biasa bagi gitaris profesional.

  3. Presisi dan Realisme: Impulse response sangat akurat dalam mereplikasi karakteristik suara asli dari amplifier dan speaker. Ini tidak hanya mencakup distorsi dan warna suara, tetapi juga interaksi mikrofon, posisi mikrofon, dan akustik ruang, menciptakan hasil yang sangat realistis.

  4. Efek Gitar Digital: Dalam sistem efek berbasis digital seperti guitar modeling software (misalnya, Amplitube atau Line 6 Helix), IR digunakan untuk menciptakan pengalaman bermain gitar yang sangat mirip dengan menggunakan peralatan fisik. Gitaris dapat mengubah berbagai elemen suara dengan mengubah IR yang digunakan.

Kelebihan dan Kekurangan Impulse Response pada Efek Gitar

Kelebihan:

  • Simulasi Akurat: IR menawarkan simulasi yang sangat mendekati suara amplifier dan speaker fisik, termasuk karakteristik mikrofon dan kabinet yang terlibat.
  • Portabilitas dan Fleksibilitas: Gitaris dapat membawa berbagai setup amplifier dan speaker hanya dengan file IR, ideal untuk rekaman atau tampil live tanpa peralatan besar.
  • Kemudahan Pengaturan: Dengan IR, gitaris bisa mengatur suara dengan mudah melalui perangkat lunak atau perangkat keras tanpa perlu mengubah peralatan fisik.

Kekurangan:

  • Keterbatasan dalam Variasi Dinamis: Meskipun IR sangat akurat, ia mungkin tidak sepenuhnya menangkap dinamika atau interaksi langsung yang terjadi dengan peralatan fisik, terutama pada volume tinggi atau dalam konteks live performance.
  • Ukuran File yang Besar: File IR bisa berukuran besar, tergantung pada panjang dan kualitas rekaman, yang mungkin menjadi masalah jika digunakan dalam perangkat dengan ruang penyimpanan terbatas.
  • Keterbatasan Tuning dan Interaksi: Meskipun IR dapat menyimulasikan berbagai setup gitar, interaksi langsung antara gitaris dan peralatan fisik (seperti kontrol tonality yang lebih real-time) bisa kurang terwakili.

Kesimpulan

Impulse response pada efek gitar adalah teknologi yang memungkinkan gitaris untuk mensimulasikan berbagai amplifier, speaker, dan mikrofon dengan akurasi tinggi tanpa harus memiliki peralatan fisik. Dengan menggunakan IR, gitaris dapat dengan mudah mengubah suara mereka, baik untuk rekaman atau pertunjukan langsung, menawarkan fleksibilitas dan kualitas suara yang sangat baik dalam setup yang lebih portabel.

20 November 2024

Apa perbedaan mixing dan mastering?

 

Mixing dan mastering adalah dua tahap berbeda dalam proses produksi musik, namun keduanya bertujuan untuk menghasilkan audio berkualitas tinggi. Berikut penjelasan detail perbedaannya:

1. Mixing

Mixing adalah proses mengolah track individu dari sebuah lagu untuk menciptakan keseimbangan sonik yang baik. Ini dilakukan setelah proses rekaman selesai dan sebelum mastering. Fokusnya adalah mengatur elemen-elemen dalam sebuah lagu agar terdengar harmonis dan profesional.

Langkah-langkah utama mixing:

  • Volume Balancing: Mengatur tingkat volume setiap instrumen dan vokal agar proporsional.
  • EQ (Equalization): Menyesuaikan frekuensi setiap elemen untuk menghindari konflik frekuensi antara instrumen.
  • Panning: Menempatkan elemen audio di spektrum stereo untuk menciptakan dimensi ruang (kiri-kanan).
  • Compression: Mengontrol dinamika suara agar lebih konsisten.
  • Effects: Menambahkan efek seperti reverb, delay, chorus, atau phaser untuk menciptakan tekstur dan suasana tertentu.
  • Automation: Membuat perubahan dinamis seperti pengaturan volume atau efek tertentu yang berubah selama lagu berlangsung.

Hasil akhir mixing: Track audio yang terdengar kohesif, di mana setiap elemen memiliki tempatnya sendiri tanpa saling bertabrakan.


2. Mastering

Mastering adalah tahap akhir dari proses produksi musik yang bertujuan untuk memastikan lagu terdengar baik di berbagai perangkat pemutaran. Ini mencakup penyempurnaan hasil mixing dan persiapan untuk distribusi.

Langkah-langkah utama mastering:

  • Final EQ: Menyesuaikan keseimbangan frekuensi keseluruhan track.
  • Compression dan Limiting: Menambah loudness tanpa mengorbankan dinamika, sambil memastikan tidak ada clipping.
  • Stereo Enhancement: Memperluas atau mempersempit ruang stereo agar sesuai dengan tujuan kreatif.
  • Normalisasi Level: Menyesuaikan volume keseluruhan lagu agar sesuai dengan standar industri (misalnya, -14 LUFS untuk platform streaming).
  • Noise Reduction: Menghapus noise atau artefak yang tersisa.
  • Format Final: Mengonversi ke format distribusi seperti WAV atau MP3 sesuai kebutuhan platform.

Hasil akhir mastering: Track audio yang siap dipublikasikan dengan kualitas tinggi dan konsistensi yang baik di berbagai media atau perangkat.


Perbedaan Utama

AspekMixingMastering
FokusMengolah elemen individu dalam sebuah laguMenyempurnakan keseluruhan lagu
ProsesMulti-track (menggunakan banyak file audio)Stereo track (menggunakan satu file stereo)
TujuanMembuat setiap elemen terdengar harmonisMembuat lagu terdengar optimal untuk rilis
Teknik UtamaVolume, EQ, panning, efekEQ, loudness, stereo enhancement
Hasil AkhirTrack campuran (pre-master)Track final siap distribusi

Mixing adalah tentang "menyusun puzzle," sedangkan mastering adalah tentang "mengkilapkan hasil akhir." Kedua proses ini sangat penting untuk memastikan musik terdengar profesional dan berkualitas tinggi di semua sistem pemutaran.

Acoustic Treatment untuk Studio Rekaman

Acoustic treatment adalah proses atau teknik untuk mengontrol akustik ruangan sehingga menghasilkan lingkungan suara yang optimal, khususnya untuk studio rekaman, ruang mixing, atau home theater. Tujuannya adalah mengurangi pantulan suara berlebih, gema, dan resonansi yang tidak diinginkan, sehingga suara yang direkam atau diperdengarkan lebih jelas dan akurat.

Elemen Penting dalam Acoustic Treatment

  1. Absorpsi Suara

    • Tujuan: Mengurangi pantulan suara dalam ruangan.
    • Bahan:
      • Panel akustik dari busa atau fiberglass.
      • Tirai tebal atau karpet.
    • Lokasi:
      • Biasanya dipasang di dinding dan langit-langit pada titik-titik pantulan pertama.
      • Berfungsi untuk mengurangi frekuensi menengah dan tinggi.
  2. Difusi Suara

    • Tujuan: Menyebarkan gelombang suara agar tidak terkonsentrasi di satu titik.
    • Bahan:
      • Diffuser berbahan kayu, plastik, atau bahan lainnya dengan pola kompleks.
    • Lokasi:
      • Dipasang di area belakang atau samping pendengar untuk menghindari suara “mati” (dead sound).
  3. Isolasi Suara (Soundproofing)

    • Tujuan: Mencegah suara masuk atau keluar dari studio.
    • Bahan:
      • Dinding ganda, pintu kedap suara, kaca tebal, dan sealant akustik.
    • Lokasi:
      • Berfokus pada dinding, pintu, lantai, dan langit-langit ruangan.
  4. Bass Trap

    • Tujuan: Mengontrol frekuensi rendah yang sering menjadi masalah di ruang kecil.
    • Bahan:
      • Biasanya dari busa akustik densitas tinggi atau fiberglass.
    • Lokasi:
      • Dipasang di sudut ruangan, tempat frekuensi rendah biasanya terakumulasi.

Langkah Penting dalam Acoustic Treatment Studio

  1. Analisis Ruangan:

    • Ukur dimensi ruangan dan identifikasi masalah akustik, seperti gema atau dead spot.
  2. Penempatan Panel Akustik:

    • Gunakan cermin untuk menemukan titik pantulan pertama (mirror trick) dan tempatkan panel di sana.
  3. Kontrol Frekuensi Rendah:

    • Pasang bass trap di semua sudut, termasuk tempat pertemuan dinding, lantai, dan langit-langit.
  4. Perawatan Langit-Langit:

    • Gunakan panel gantung (cloud panels) untuk mengurangi pantulan vertikal.
  5. Uji dan Koreksi:

    • Gunakan mikrofon dan alat pengukur suara untuk memeriksa efektivitas akustik setelah pemasangan.

Keuntungan Melakukan Acoustic Treatment

  1. Hasil Rekaman Lebih Jelas:

    • Mengurangi gangguan gema dan pantulan, sehingga mikrofon menangkap suara dengan lebih presisi.
  2. Mixing yang Akurat:

    • Ruang yang terkontrol secara akustik memastikan bahwa frekuensi tidak "menipu" telinga.
  3. Peningkatan Kualitas Suara:

    • Tidak hanya untuk rekaman, tetapi juga untuk mendengarkan musik, film, atau podcast.

Dengan acoustic treatment yang baik, studio rekaman akan memiliki karakter suara yang lebih terkontrol, memberikan hasil rekaman yang profesional dan memuaskan.

Apa perbedaan Audio interface dan Mixer?


Audio interface dan mixer adalah perangkat yang digunakan dalam pengolahan audio, tetapi mereka memiliki fungsi dan aplikasi yang berbeda. Berikut adalah penjelasan detail tentang perbedaan keduanya:


1. Definisi dan Fungsi Utama

  • Audio Interface
    Audio interface adalah perangkat yang menghubungkan mikrofon, instrumen, atau perangkat audio lainnya ke komputer. Fungsi utamanya adalah untuk mengubah sinyal analog menjadi digital (A/D conversion) dan sebaliknya (D/A conversion). Audio interface sering digunakan untuk rekaman, produksi musik, dan mixing digital di dalam komputer.

  • Mixer
    Mixer adalah perangkat yang menggabungkan, memproses, dan menyeimbangkan berbagai sumber audio dalam sinyal analog atau digital. Mixer sering digunakan dalam aplikasi live sound, broadcasting, atau studio untuk mengontrol tingkat suara dan efek secara langsung.


2. Fokus Penggunaan

  • Audio Interface

    • Rekaman di studio atau di rumah (home recording).
    • Produksi musik menggunakan Digital Audio Workstation (DAW).
    • Fokus pada kualitas konversi audio dan jumlah input/output untuk perangkat komputer.
    • Umumnya digunakan untuk satu atau beberapa sumber input dalam satu waktu.
  • Mixer

    • Mengatur audio secara langsung dalam situasi live (konser, acara, penyiaran).
    • Dapat memproses banyak saluran (channels) secara simultan.
    • Cocok untuk pengaturan audio di tempat seperti rumah ibadah, studio siaran, atau produksi live streaming.

3. Fitur Utama

  • Audio Interface

    • Input/Output: Jumlah input/output terbatas, biasanya berkisar dari 2 hingga 8 untuk versi konsumen.
    • Preamplifier: Tersedia untuk memperkuat sinyal dari mikrofon atau instrumen.
    • Latensi: Dirancang untuk meminimalkan latensi saat digunakan dengan komputer.
    • D/A dan A/D Conversion: Komponen penting untuk menghasilkan kualitas rekaman yang jernih.
  • Mixer

    • Channel Strips: Terdapat kontrol untuk volume, EQ (equalizer), pan, efek, dan aux sends pada setiap channel.
    • Built-in Effects: Beberapa mixer memiliki efek bawaan seperti reverb, delay, atau compressor.
    • Routing: Lebih fleksibel dalam pengaturan output ke berbagai perangkat.
    • Analog vs Digital: Mixer bisa berupa analog (manual) atau digital (dengan fitur tambahan seperti memori preset).

4. Interaksi dengan Komputer

  • Audio Interface:
    Dirancang untuk bekerja langsung dengan komputer melalui USB, Thunderbolt, atau FireWire. Kompatibilitasnya dengan DAW sangat penting.
    Contoh: Focusrite Scarlett, Audient iD Series.

  • Mixer:
    Tidak semua mixer bisa terhubung ke komputer. Mixer digital tertentu dapat berfungsi sebagai audio interface, tetapi mixer analog biasanya memerlukan perangkat tambahan.
    Contoh: Behringer X32 (digital), Yamaha MG10XU (analog dengan interface USB).


5. Mobilitas dan Portabilitas

  • Audio Interface:
    Biasanya lebih kecil dan ringan, mudah dibawa untuk rekaman mobile.
    Desain minimalis karena fokus pada input/output.

  • Mixer:
    Mixer cenderung lebih besar, terutama jika memiliki banyak channel. Cocok untuk digunakan di tempat tetap atau acara besar.


6. Contoh Penggunaan

  • Audio Interface:

    • Seorang musisi merekam vokal dan gitar ke komputer.
    • Produser menggunakan DAW untuk mixing dan mastering.
  • Mixer:

    • Sound engineer mengatur audio untuk konser live.
    • Operator mengelola banyak sumber suara untuk siaran radio atau televisi.

Kesimpulan

  • Gunakan audio interface jika Anda fokus pada produksi musik atau rekaman digital dengan komputer.
  • Gunakan mixer jika Anda membutuhkan pengaturan audio langsung dengan banyak input, terutama dalam situasi live atau siaran.

Jika Anda membutuhkan kedua fungsi, ada perangkat hybrid seperti mixer digital yang juga dapat bertindak sebagai audio interface.

Spesifikasi Komputer untuk membuat Studio Rekaman Musik

 


Membuat studio rekaman membutuhkan komputer dengan spesifikasi yang memadai untuk menangani proses perekaman, pengeditan, dan produksi audio. Berikut adalah spesifikasi yang direkomendasikan:

1. Prosesor (CPU)

  • Minimum: Intel Core i5 atau AMD Ryzen 5.
  • Disarankan: Intel Core i7/i9 atau AMD Ryzen 7/9 (untuk pengeditan dan penggunaan plug-in berat).
  • Alasan: CPU yang kuat sangat penting untuk memproses efek audio, mengolah plug-in, dan menangani banyak trek audio secara bersamaan.

2. Memori (RAM)

  • Minimum: 8 GB.
  • Disarankan: 16 GB atau lebih (32 GB untuk proyek besar dengan banyak trek dan plug-in).
  • Alasan: RAM besar membantu mengelola aplikasi DAW (Digital Audio Workstation) yang membutuhkan memori besar saat bekerja dengan file audio resolusi tinggi.

3. Penyimpanan

  • SSD (Solid State Drive):
    • Minimum: 256 GB untuk sistem operasi dan perangkat lunak.
    • Disarankan: 512 GB atau lebih untuk performa cepat.
  • HDD (Hard Disk Drive):
    • Gunakan 1-2 TB HDD untuk menyimpan file audio dan proyek.
  • Alasan: SSD mempercepat booting, pengoperasian DAW, dan akses data. HDD digunakan untuk kapasitas penyimpanan besar.

4. Kartu Grafis (GPU)

  • Minimum: Kartu grafis onboard sudah cukup jika hanya untuk audio.
  • Disarankan: Kartu grafis seperti NVIDIA GTX 1650 atau lebih tinggi jika juga ingin mengedit video atau visual audio.
  • Alasan: Proses audio tidak terlalu memerlukan GPU tinggi, tetapi editing video membutuhkan performa grafis yang lebih baik.

5. Koneksi dan Port

  • USB: Minimal 3 port USB 3.0 untuk audio interface, MIDI controller, atau perangkat lain.
  • Thunderbolt/USB-C: Jika perangkat audio mendukung koneksi cepat.
  • Alasan: Koneksi yang cepat dan stabil penting untuk perangkat rekaman seperti audio interface.

6. Sistem Operasi

  • Windows: Windows 10/11 (64-bit).
  • Mac: macOS terbaru (MacBook Pro atau iMac lebih sering digunakan untuk studio profesional).
  • Alasan: Keduanya stabil untuk audio, tergantung preferensi pengguna dan kompatibilitas perangkat lunak.

7. Audio Interface

Meskipun bukan bagian dari komputer, audio interface sangat penting untuk input/output suara berkualitas tinggi. Pilih yang memiliki spesifikasi berikut:

  • Resolusi minimal 24-bit/96 kHz.
  • Input/Output yang cukup sesuai kebutuhan (misalnya 2x2 atau 4x4 untuk mikrofon dan instrumen).

8. Perangkat Lunak (DAW)

Komputer harus kompatibel dengan DAW pilihan Anda, seperti:

  • Windows/Mac: Ableton Live, FL Studio, Cubase, Pro Tools.
  • Mac eksklusif: Logic Pro X.

9. Monitor

  • Resolusi: Full HD (1920x1080) atau lebih tinggi.
  • Ukuran: 24–27 inci untuk workspace yang luas.

Dengan spesifikasi di atas, Anda dapat membuat studio rekaman yang andal dan siap menangani proyek audio dengan kualitas profesional. Jika memungkinkan, pastikan sistem memiliki pendingin yang baik untuk mencegah overheating saat bekerja lama.

19 November 2024

Apa yang dibutuhkan untuk membuat Home Recording Studio

 

Membuat home recording sederhana membutuhkan beberapa alat, perangkat lunak, dan ruang yang mendukung untuk merekam audio berkualitas. Berikut adalah penjelasan rinci:


1. Perangkat Keras (Hardware)

a. Komputer atau Laptop

  • Spesifikasi minimal:
    • Prosesor: Intel Core i5 atau setara.
    • RAM: Minimal 8 GB.
    • Penyimpanan: SSD lebih baik untuk kecepatan akses file.
  • Fungsinya untuk menjalankan perangkat lunak perekaman dan menyimpan file audio.

b. Audio Interface

  • Alat untuk menghubungkan mikrofon atau alat musik ke komputer dengan kualitas audio yang baik.
  • Contoh merek: Focusrite Scarlett, PreSonus AudioBox.
  • Fitur penting:
    • Input XLR untuk mikrofon.
    • Input jack untuk instrumen (gitar, keyboard).
    • Output untuk headphone atau speaker monitor.

c. Mikrofon

  • Mikrofon Kondensor:
    • Cocok untuk vokal dan instrumen akustik.
    • Contoh: Audio-Technica AT2020, Rode NT1A.
  • Mikrofon Dinamis:
    • Cocok untuk vokal langsung atau rekaman live.
    • Contoh: Shure SM58.

d. Headphone Studio

  • Pilih headphone closed-back untuk memonitor suara tanpa bocor.
  • Contoh: Audio-Technica ATH-M50x, Beyerdynamic DT 770 Pro.

e. Speaker Monitor (Opsional)

  • Untuk mendengar hasil rekaman secara akurat.
  • Contoh: KRK Rokit, Yamaha HS5.

f. Kabel dan Stand Mikrofon

  • Kabel XLR untuk mikrofon.
  • Stand mikrofon agar mikrofon stabil selama rekaman.

g. Pop Filter

  • Alat untuk mengurangi bunyi "plosive" (P, B) saat merekam vokal.

h. Instrumen Musik (Opsional)

  • Gitar, keyboard MIDI, atau instrumen lain sesuai kebutuhan.

2. Perangkat Lunak (Software)

a. Digital Audio Workstation (DAW)

  • Perangkat lunak untuk merekam, mengedit, dan memproduksi audio.
  • Pilihan populer:
    • Gratis: Audacity, Cakewalk by BandLab.
    • Berbayar: Ableton Live, FL Studio, Logic Pro X (khusus Mac), Cubase.

b. Plugin dan Virtual Instruments

  • VST Plugin: Untuk efek suara, mixing, dan mastering.
  • Virtual Instruments: Untuk menciptakan suara alat musik digital (drum, piano, dll.).

3. Ruang Rekaman

  • Ruangan Kedap Suara:
    • Minimalkan pantulan suara dengan busa akustik atau tirai tebal.
  • Penyusunan Ruang:
    • Letakkan mikrofon jauh dari dinding kosong untuk mengurangi gema.
  • Isolasi:
    • Gunakan karpet atau kain tebal untuk menyerap suara.

4. Langkah-Langkah Pengaturan

  1. Siapkan Perangkat Keras:

    • Hubungkan mikrofon dan instrumen ke audio interface.
    • Hubungkan audio interface ke komputer.
  2. Instal Perangkat Lunak:

    • Pasang DAW pilihan dan pastikan audio interface dikenali oleh komputer.
  3. Atur Setting Audio:

    • Pilih audio interface sebagai perangkat input dan output di DAW.
    • Tentukan resolusi audio (contoh: 44.1 kHz, 24-bit).
  4. Mulai Rekaman:

    • Buat track baru di DAW.
    • Sesuaikan level input agar tidak terlalu rendah atau overloading.
  5. Mixing dan Mastering:

    • Tambahkan EQ, kompresi, dan reverb untuk memperbaiki kualitas suara.
    • Mastering untuk memastikan hasil akhir terdengar seimbang.

5. Anggaran (Ukuran Home Recording Studio)

  • Low Budget: Rp 3-5 juta (mikrofon USB + headphone + laptop sederhana).
  • Medium Budget: Rp 7-15 juta (mikrofon kondensor + audio interface + laptop/PC).
  • High Budget: Rp 20 juta ke atas (peralatan profesional + ruangan akustik).

Dengan perangkat dan setup sederhana ini, Anda dapat mulai membuat rekaman berkualitas di rumah. 

13 October 2014

Analyzer untuk Mixing


Hari ini kita akan membahas beberapa analyzer yang umum digunakan ketika mixing. 

Kita mulai dari peak dan RMS meter. 

Sebelumnya mimin mau recap bedanya Peak vs RMS.

Peak = Puncak tertinggi dari suatu gelombang. Bisa dikatakan top speed kalau di kecepatan. 
RMS = lebih mengarah ke presepsi kerasnya suara yang kita dengar.

Peak meter: berfungsi untuk mengukur peak dari suatu sumber suara. 
Kegunaan dalam mixing: untuk mencegah clipping. 

RMS meter: berfungsi untuk mengukur seberapa keras sumber suara. 
Kegunaan dalam mixing: untuk mengukur seberapa keras sebuah lagu/audio.

Cara pakai: tinggal samakan antara tinggi/panjang bar dengan besaran dB. :D

Apa itu Mastering?



Pada dasarnya mastering itu adalah menyiapkan master file audio yang nanti nya akan ditransfer ke suatu media. Bisa vinyl, CV, DVD, tape, dll.

Selain itu mastering juga bisa untuk memaksimalkan potensi sebuah lagu atau musik. Mirip sama mixing, yang menjadi perbedaan adalah mastering hanya menggunakan 1 stereo track (hasil mixdown dari mixing engineer).

Bagaimana proses nya? Seperti mixing, sejauh ini mimin belum menemukan sebuah aturan baku dalam mastering. Intinya balik lagi..

 "Menyiapkan sebuah lagu yang siap edar untuk dimainkan di media tertentu"


Mastering menggunakan FX apa saja? Hmm.. seperti yang sudah dibilang sebelumnya. Seperti mixing, tidak jauh" dari EQ, Compressor, Reverb, Limiter, Multiband Compressor.

08 October 2014

Definisi Remix?


Definisi remix antara producer sama sound engineer memang beda. 
Menurut producer remix adalah me-arrange ulang suatu karya, sedangkan menurut sound engineer remix adalah me-mixing ulang suatu karya

Parameter band Equalizer

Di EQ kadang kita suka nemuin 2 tipe parameter band: "Q" dan "bandwith" yang sebenernya sama aja setau mimin, bedanya hanya di besar nominal.

Parametriq EQ 1
Kalau make "Q" maka semakin kecil angka akan semakin besar slope nya. Sementara kalau bandwith semakin besar angka yang ada di bandwith maka semakin besar slope nya.

Contoh perbandingan: Parametriq EQ 1 dan 2 yang ada di FLStudio.

Parametriq EQ 2


Clipping?


Indikator merah di meteran DAW itu tidak selama nya menandakan kalau audio anda clipping. Itu sebenarnya penanda kalau level audio itu "hot". 

Untuk masalah clipping harus didengarkan bukan dilihat. Terkadang walau sinyal masih hijau masih ada kemungkinan untuk clipping loh :D

Apa itu Binaural Recording?


Binaural Recording adalah tehnik merekam suara untuk mendapatkan hasil seperti yang telinga kita tangkap. Untuk mendengarkan hasilnya pendengar diharuskan untuk menggunakan headphone.

Untuk lebih jelasnya yuk kita liat video ini dan rasakan pengalaman dari hasil Binaural Recording itu sendiri. DIwajibkan untuk menggunakan headphone.


25 April 2014

Clipping / Peak

Apa itu clipping / peak sudah tentu akan berkaitan dengan Headroom, bagi yang belum tau, silahkan baca-baca referensinya di APA ITU HEADROOM


Nah tau gk, Tidak selamanya clipping / peak itu jelek lho.
Justru terkadang beberapa engineer ada yang pengen lagunya ter-saturasi oleh alat analog yang tujuan nya adalah untuk mendapatkan rasa "unik" kayak di lagu-lagu jadul. Kata engineer old school itu "Record as hot as possible".

Tapi perlu di ingat, ini hanya berlaku untuk perangkat analog.

Bagaimana dengan digital? Sinyal yang peak akan terpotong dan berubah menjadi square wave dan hasilnya adalah distort yang ga enak.



So kalo di digital, JANGAN.. sekali lagi JANGAN SAMPAI PEAK / CLIPPING, kecuali emang mau nya begitu :p

17 March 2014

Perbedaan Mixing dan Mastering?


Sering kali admin sering melihat banyak orang yang masih salah paham soal mixing dan mastering. Jadi kali ini Admin cuma mau sharing soal ini.

Apa sih bedanya mixing dan mastering?

Mixing adalah proses dimana kita menggabungkan beberapa file audio yang sudah kita rekam dan juga memproses mereka dengan plugin" tertentu sesuai dengan fungsi nya. Pada umumnya didalam nya terdapat beberapa proses seperti Balancing, Paning, FX, dan Automation.
Tujuan nya adalah agar lagu yang awal nya terdengar mentah jadi enak untuk di dengar.

Sedangkan mastering adalah proses dimana kita menyiapkan sebuah file audio yang sudah di mix ke dalam suatu media. Media itu sendiri bisa CD, DVD, iTunes, dll.
Sedikit perbedaan nya adalah di mastering ini kita agak sedikit dipaksa untuk berhitung.

Semoga bermanfaat!

09 August 2012

Istilah-istilah yang ada dalam dunia audio

Begitu banyak bahasa yang digunakan dalam dunia audio, dan terkadang sering kali membingungkan kita sebagai praktisi/musisi/penikmat/pengamat dalam dunia audio. Dibawah ini beberapa istilah/bahasa yang digunakan dalam dunia audio.

Anechoic Chamber :
Suatu ruangan yang dirancang khusus untuk menghilangkan pantulan suara dari dinding. Idealnya, sebuah anechoic chamber tidak menimbulkan pantulan suara pada frekuensi berapa pun (dindingnya menyerap semua frekuensi) dan dapat ‘me-reproduksi’ suara asli yang telah di rancang/desain seakurat mungkin terhadap percobaan yang kita lakukan disitu.

Audio Mixer :
Suatu alat yang berfungsi sebagai penguat dan penyeimbang dari beberapa sumber suara, menjadi satu keluaran (output) yang memenuhi kriteria untuk menjadi masukan (input) pada alat perekam.

Basilar membrane :
Suatu lapisan didalam rumah siput telinga bagian dalam kita yang bertugas menganalisa frekuensi dari gelombang suara yang diterima oleh gendang telinga.

Clip On :
Jenis microphone yang bentuknya kecil, dengan posisi pemakaian mic dipasangkan pada baju atau kostum pengisi acara. Bisa dengan cara dijepitkan ataupun dengan cara ditempel.

Clipping :
Sesuatu yang terjadi sewaktu amplitudo suara melewati ambang batasmaksimum. Umumnya suara menjadi pecah.

Complex tone :
Nada/suara yang mempunyai beberapa kandungan frekuensi, 99,9% jenis suara yang kita dengar adalah complex tone, hanya beberapa suara saja yang disebut pure tone (mempunyai kandungan satu macam frekuensi saja) seperti sine wave, beberapa jenis suara burung dan lain-lain.

Compressor :
Alat yang digunakan untuk mengatur dynamic range suara.

Critical bandwidth :
Lebarnya bandwidth suatu band-passed noise yang dapat menutup suatu narraow band signal yang mempunyai frekuensi tengah dalam daerah yang sama. Critical band diartikan suatu daerah yang membatasi suatu sensasi roughness dimana satu frekuensi dapat terdengar dengan jelas.

DAW (Digital Audio Workstation) :
Perangkat rekaman yang berbasis digital atau komputer. Seperti Nuendo, cubase, Sonar dll...

Decibel (dB) :
unit logaritmik untuk mengukur level suara.
(sebuah satuan yg digunakan untuk mengukur suara, seperti cm(centimeter) pada jarak).

D.I. Box :
Alat yang berfungsi untuk mengubah signal unbalanced (-10dB) menjadi balanced (+4dB).

Diffuser :
Alat/materi yang secara umum memantulkan suara dan dipasang untuk mengurangi suatu pantulan yang terfokus, biasanya diffuser dipakai untuk menyebarkan frekuensi tertentu ke segala arah dengan rata (sering disebut dengan sebutan diffuser).

Difraksi :
Salah satu sifat suara yang dapat “memutar” jika menabrak benda yang besarnya lebih kecil dari gelombangnya.

Early reflection / pantulan-pantulan awal suara :

Pantulan-pantulan awal suara dari sumber suara yang sampai ketelinga kita rata-rata dengan satu/dua kali memantul dari dinding/langit-langit/lantai. Besarnya sangat dipengaruhi oleh koefisien penyerapan suara dari bahan-bahan yang terpasang pada dinding /langit-langit/lantai. Suara ini biasanya sampai ditelinga kita tidak lebih dari 50ms setelah suara asli dari sumber suara sampai.

Equalizer :
Alat untuk mengubah tonal balance dari suatu spektrum suara.
(Alat yg bs meng-CUT/mem-boost frequency yg diinginkan dengan Q-factor tertentu)

Fundamental frequency / frekuensi dasar:
Frekuensi alam (natural frequency terendah yang dihasilkan suatu system (harmonic pertama).

Frekuensi / frequency :
Banyaknya getaran yang terjadi dalam jangka waktu tertentu (satuan nya adalah Hertz, yang biasa disingkat Hz).

FOH (Front Of House) :
Tempat yang digunakan untuk meng-control sound system.

Handheld Microphone :
Microphone yg dipegang oleh tangan/microphone genggam.

Harmonic:
Frekuensi-frekuensi spectrum suara yang berkelipatan bulat terhadap frekuensi dasar.

Infrasonic:
Frekuensi/suara dibawah batas pendengaran kita (kurang dari 20Hz).

Microphone :
Suatu alat yang mengubah energi gerak menjadi energi listrik.

Millisecond (ms):
Mili-detik. Sama dengan satu perseribu detik (1/1000 detik = 1 ms).

Mixer Monitor :
Mixer yang ada dibelakang atau disamping panggung yang konsentrasinya adalah untuk melayani pembagian suara dan balancing monitor diatas panggung.

Noise:
Suara yang tidak dinginkan.

Omnidirectional :
Polar pattern yang dapat menerima suara dari segala arah.

Overtones:
Frekuensi –frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi dasar, dapat berkelipatan bulat atau pecahan.

PA (Public Address) System:
Bahasa professional untuk sound system yg menghadap ke penonton.

Phonemes:
Bagian suara terkecil/tersingkat dari suatu bahasa.

Pink Noise :
Frekuensi dari 20Hz-20KHz dibunyikan secara bersamaan dengan volume kekerasan yang sama.

Resonansi:
Bagian suara terkecil/tersingkat dari suatu bahasa.

Reverberation time:
Waktu yang dibutuhkan suara untuk berkurang 60dB disuatu ruangan yang mempunyai dinding-dinding reflective.

Reverberance:
Suatu sensasi reverberation didalam sebuah ruangan, dapat juga diartikan sensasi dimana kita dikelilingi oleh suara.

RTA (Real Time Analyzer):

Alat untuk mendeteksi frequency, bentuknya seperti PDA namun built in microphone.

Sensitivity :
Besar kecilnya energy listrik yang dihasilkan oleh
microphone akibat energy suara yang mengenai membran
microphone.

Speech Intelligibility :
Kemampuan untuk mendengar dan memahami suatu pembicaraan,

SPL (sound pressure Level) :
Level tekanan yg di sebabkan gelombang suara biasa dengan satuan dB, bisa dilihat di setiap microphone (kemampuan SPL sebuah Microphone).

Tinnitus :
Sensasi ringing/buzzing/roaring/mendengung didalam telinga. Adalah suatu bentuk kerusakan yang terjadi dalam telinga kita.

Ultra sonic :
Frekuensi/suara diatas batas pendengaran kita (diatas 20.000 Hz)

White noise:
Suara yang tidak mengandung informasi, dimana suara ini mempunyai energy yang sama pada tiap interval frekunsinya. Contoh adalah suara air terjun.

Wirelless microphone :
Microphone nirkabel yakni microphone yang koneksinya tidak menggunakan kabel. Mentransmisikan sinyalnya menggunakan pemancar radio FM kecil yang terhubung kepada receivernya dalam satu sound system.


Disalin dari
Forum HTT Kakus
Thread Istilah/Bahasa Dalam Dunia Audio
Oleh mostalavista

08 August 2012

Tips untuk vocalist saat recording / rekaman



Bagi yang mau jadi penyanyi atau vocalis yang merekam vocal, mungkin artikel ini cucok banget buat nambah ilmu kalian dalam take vocal / merekam vocal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam take vocal :
 
1. Artikulasi Kata
Nyanyi adalah ungkapan yang harus disampaikan. Jadi bernyanyilah seperti kita berbicara atau berkata-kata. Maka si pendengar lagu akan bisa menangkap dengan jelas apa yang kita sampaikan. Seandainya kita bicara tidak jelas, maka orang yang kita ajak bicara pun bilang “maaf, anda tadi ngomong apa?” nah itu akan mempengaruhi sekali terhadap hasil take vocal kita. Jadi intinya adalah harus jelas artikulasi kata kita, kalau kita sudah bernyanyi dengan jelas seperti orang berbicara, maka tidak sadar pula bahwa kita sudah bernyanyi dengan padat atau “tight”.

2. Memilih Microphone
Memang tak banyak studio rekaman yang menyediakan pilihan microphone yang banyak. Tetapi bila anda mendapatkan studio dengan fasilitas pilihan mic banyak, manfaatkanlah fasilitas tersebut dan carilah mic yang sesuai dengan karakter/warna vocal anda. Biasanya untuk vocal dibutuhkan polar pattern Cardiod (Unidirectional Mic), yang mana suara hanya tertangkap dari arah depan dan agak berkurang bila anda menyanyi dari sisi mic tersebut.

3. Jarak Mic
Take vocal atau merekam vocal yang bagus adalah berjarak 1 jengkal tangan antara mic dan bibir kita atau 15-24 centimeter, karena bila kita bernyanyi dekat sekali dengan mic, maka akan menimbulkan suara “beb” (letupan) ataupun “desis” (hizzing) yang terlalu berlebihan. Memang ada plugin yang menanggulangi masalah desis itu yaitu “De-Esser” atau hardware pop-filter untuk letupan (plossive), cuma alangkah baiknya kalau itu kita tanggulangi dari saat rekaman. Sebagus-bagusnya alat recording ataupun plugin, tidak bisa sealami orang bernyanyi natural, jadi mulailah belajar untuk bernyanyi dengan jarak yang cukup baik mulai sekarang.

4. Tone Vocal
Banyak yang bilang kalau jaman sekarang rekaman itu, semuanya bisa di atasi dengan peralatan yang serba canggih, itu memang betul sekali. Tapi satu hal yang tidak bisa disamakan antara manusia dan peralatan yaitu “tone vocal” atau karakter kita. Mungkin vocal bervolume kecil bisa di manipulasi dengan berbagai macam peralatan compressor sehingga terdengar menjadi keras. Tapi sesungguhnya vocal itu hanya keras tapi tidak bertenaga (powerless). Untuk dikalangan musisi senior atau pakar audio yang handal, pasti mereka bisa membedakan mana tone asli dan hasil manipulasi alat. Untuk itu, maksimalkan ‘tone vocal’ Anda.

5. Compressor
Fungsi compressor adalah untuk mengompres vocal yang terlalu besar dinamikanya. Nah, sebenarnya manusia sendiri punya compressor. Teriak tapi tidak peak, yaitu dengan cara menahan alunan tenaga dari diaphragm ke pita suara,tetapi tidak mengurangi nada/tone vocal kita. Itulah yang disebut “level control”, di perlukan teknik serta latihan yang cukup untuk dapat menguasainya dengan baik.

6. Soul / Penjiwaan (Rasa)
"…seorang vocalist pun harus belajar bagaimana bisa “memanipulasi” atau memerankan peran yang berbeda dalam setiap lagu-lagu yang akan dinyanyikan.."

Sebenernya semua ini berkaitan antara penjelasan yang satu dengan penjelasan yang lainnya. Soul/rasa/feel itu sangat penting buat seorang penyanyi. Karena rasa itu digunakan untuk menyampaikan apa isi dari lirik lagu yang kita nyanyikan. Menurut saya, vocalist itu sama seperti pelaku peran dalam sinetron atau drama, kenapa? Sebab pelaku peran itu biasanya bisa memainkan emosi/mood yang sesuai dengan peran yang akan diperankannya. Nah, sebaiknya seorang vocalist pun harus belajar bagaimana bisa “memanipulasi” atau memerankan peran yang berbeda dalam setiap lagu-lagu yang akan dinyanyikan..walau dia hanya mengekspresikannya dengan suara doang. Nah disini lah letak pentingnya dinamika bernyanyi, karena bisa memainkan emosi pendengar. Walaupun sesungguhnya sang penyanyi tidak lagi dalam kondisi sedih tapi harus nyanyi sedih. Kalau hal itu sudah dapat kamu pahami dan jiwai, dijamin suara kamu bakal terdengar lebih baik.

7. Review
Setelah take vocal selesai, coba dengarkan lagi tanpa ada satupun plug in atau efek yang menempel di track kita (flat). Apakah kamu sudah maksimal seperti apa yang di bahas dari point 1-6? Apakah kamu sudah ngerasa nyaman dengan hasil suara kamu selama bernyanyi, apakah sudah ada fill/soul/rasanya di setiap kata yang kamu ucap? Cobalah mengulangnya kembali kalau memang belum, sebaiknya dikoreksi supaya mendapatkan hasil yang maksimal.

Memang bernyanyi itu tergantung mood atau perasaan hati, jadi jagalah mood itu baik-baik selama kamu melakukan rekaman vocal. Ulangi lagi esok hari, kalau memang mood itu tidak ada. Have fun and be fun, saya sarankan saat anda melakukan rekaman, jangan tegang dan jangan ragu untuk meminta pendapat dari operator studio, produser atau orang yang berada saat kita rekaman.

8. Tips :
  • Bernyanyilah dengan artikulasi yang jelas !
  • Pilihlah mic yang memperkuat karakter suara Anda !
  • Atur jarak mic dengan mulut dengan benar !
  • Maksimalkan ‘Tone Vocal’ dari dalam diri Anda, bukan dengan bantuan alat !
  • Jaga dinamika suara atau gunakan ‘compressor’ alami yang ada dalam diri Anda !
  • Tunjukkan emosi saat bernyanyi sesuai kebutuhan lagu !
  • Review hasil rekaman suara asli Anda !


Ditulis oleh Krish

Disalin dari Musiktek.net

05 April 2012

Belajar Mixing, Darimana Saya Harus Mulai?

“Gan, ajarin ane mixing dong, masih newbie nih”, “Misi para suhu, newbie minta tolong ajarin gimana cara mixing yang baik dan benar”. Mungkin dua contoh kalimat tersebut tidak asing kita lihat di beberapa di beberapa forum seperti kaskus (utamanya di help, tips, and tutorial), di distorsi, musiktek, dan beberapa forum audio. Bahkan mungkin banyak diantara kita yang mempunyai minat untuk belajar mixing bertanya-tanya bagaimana dan darimana harus memulai. Perkembangan teknologi informasi di era globalisasi seperti sekarang ini sudah sangat pesat, apa-apa serba mudah, termasuk belajar mixing.



Pada artikel ini, saya mencoba merangkum beberapa cara belajar mixing:

1. Membaca Buku / e-book
Bagi kamu yang benar-benar akan belajar mixing dari 0, opsi ini mungkin menjadi opsi yang paling tepat karena dalam buku biasanya diterangkan secara sistematis mulai dari apa saja yang dibutuhkan untuk mixing mulai dari software, hardware, dan basic skill penunjang yang harus dikuasai hingga keilmuan mixing itu sendiri mulai dari teori-teori dasar soal level, panning, equalizer, compressor, reverb, delay, dan sebagainya. Sebagai catatan untuk kamu yang baru dalam dunia mixing, pastikan bahwa buku yang kamu beli adalah buku yang ditunjukkan untuk beginner yang mudah dipahami oleh orang awam sekalipun seperti Mixing for Dummies dan The Mixing Engineer’s Handbook karangan Bobby Owsinski.


2. Nonton Video Lesson
Bagi kamu yang kurang suka membaca, cara ini bisa menjadi pilihan alternatif. Beberapa video lesson yang bisa kamu coba cek antara lain Mixing With the Pros: James Tuttle, Steinberg Internal Mixing, Digital Mixing Revolution, Production Mixing Mastering with Waves, dan lain-lain. Jika kamu tidak mempunyai cukup bandwith untuk mengunduh atau cukup uang untuk membeli DVDnya, youtube memiliki beberapa video tutorial yang cukup menarik untuk disimak. Namun yang menjadi kelemahannya adalah kasus yang ada di video dan kasus yang kita alami tidak sama persis sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi para pemula jika menelan mentah-mentah dan menganalisa lebih lanjut step yang ditunjukkan pada video lesson.


3. Diskusi di Forum Online
Jika pada cara pertama dan kedua komunikasi dilakukan secara satu arah, dalam diskusi di forum online kamu dapat berinteraksi dengan member lain untuk saling berbagi. Namun hal tersebut mungkin akan menyulitkan pemula karena topik yang dibahas random tapi tidak ada salahnya seorang pemula mencoba berinteraksi dengan para mixer yang lain di sebuah forum untuk sharing tentang pengalaman dan tips serta trik.


4. Kursus
Bisa dibilang kursus adalah kompromi dari cara 1, 2, dan 3 dimana peserta kursus diajari secara langsung oleh pengajar yang berpengalaman di bidangnya. Beberapa lembaga yang menyediakan kursus mixing antara lain musiktek dan dolphin. Namun harga kursus yang ditetapkan biasanya relatif mahal.


5. Magang di Studio Recording
Sebagai kompromi atas tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti kursus, magang di studio recording bisa menjadi opsi alternatif. Jika ada studio recording di dekat rumah atau kosanmu, jangan sungkan untuk bertanya dan “mendekatkan diri”. Bukan tidak mungkin kamu mendapat kesempatan untuk ikut terlibat dalam proses bisnis (utamanya yang berhubungan dengan recording dan mixing) sehingga kita mendapat banyak pelajaran melalui praktek nyata.


6. Sering-seringlah Mixing
Practice Makes Perfect, tiga kata yang sering kita ucapkan dan dengar tapi terkadang hanya sekedar keluar dari mulut dan masuk ke telinga tapi tidak terserap ke hati. Dengan sering berlatih mixing, kita akan semakin tau dengan permasalah-permasalah yang dihadapi dalam proses mixing dan bagaimana mengatasinya. Dengan sering mixing, kita juga melatih telinga untuk lebih peka terhadap hal teknis pada bunyi selain terhadap sisi seninya.

Setidaknya itulah beberapa cara yang dapat kamu jadikan referensi darimana kamus harus mulai belajar mixing tapi jangan jadikan 6 cara yang telah saya paparkan sebagai pembatas caramu belajar. Dalam kehidupan, setiap kejadian baik dan buruk adalah pelajaran, setiap orang yang berhubungan dengan kita adalah guru, setiap tempat yang kita pijak adalah bumi adalah kelas, maka tidak ada alasan bagimu untuk berhenti belajar!

01 October 2010

Pengalaman demi pengalaman hingga dapat mendirikan home recording

Iseng-iseng nih nulis pengalaman dari dulu ngeband hingga saat ini saya memiliki home recording di kamar sendiri. Bahkan bukan hanya digunakan untuk pribadi saja, saya juga menyewakan dengan omset yang sangat lumayan.

Menjadi musisi terkenal adalah dambaan banyak orang. Lihat saja beberapa acara musik di telivisi seperti dasyat, inbox, dan lain sebagainya, penuh dengan musisi baru yang menjajal nasib nya didunia entertaiment.

Tidak ada bedanya dengan saya, dulu ketika saya duduk di bangku sekolah, sempat saya membuat band dengan mimpi yang indah, akan tetapi disaat itu mungkin orientasinya masih untuk menyalurkan hobi semata.

Walau orientasi utama nya adalah menyalurkan hobi, Ada kala nya saya beserta kawan se-band saya ingin mempunyai sebuah dokumen (berupa lagu yang terekam) hasil kerja keras meniti nada demi nada yang tercipta dari imajinasi musik kami. Namun apa daya, ketika observasi ke beberapa studio rekaman, kami tidak menemukan studio rekaman yang pas dengan budget kami. Rata-rata saat itu studio rekaman dilingkungan memasang biaya 100 ribu untuk live recording (1 jam), 200 ribu semi recording (3jam), dan 350 full recording (6jam/1shift).

Jujur saat awal mengetahui ada beberapa macam recording seperti itu, saya tidak mengerti apa dan bagaimana perbedaannya :D.

Dan akhirnya, untuk pertama kalinya saya menginjak studio rekaman dengan uang hasil kerja keras dari menyisihkan uang jajan sekolah kami. Saya beserta kawan-kawan mengambil paket semi recording disebuah studio rekaman di depok.

Dan jujur, saya sangat kecewa dengan studio rekaman tersebut, bukan karena hasilnya, namun pelayanannya yang sangat buruk. Dua kali saya menyewa studio disana saya diperlakukan dengan tidak professional. Namun apa daya saya dan kawan-kawan satu band belum berani protes disaat itu (mungkin karena saat itu masih pelajar cupu).

Dari tiga jam waktu yang kami sewa, kami hanya diberikan waktu satu setengah jam untuk rekaman. Satu setengah jam lainnya kami harus menunggu sang operator tiba di studio (padahal sebelumnya si operatornya telah datang dan menyeting alat-alat rekaman nya).

Kunjungan pertama disaat kami ditinggal operator, kami bertanya kemana operator rekaman nya kepada penjaga studio tersebut. Dan jawaban si penjaga studio rekaman adalah si operator sedang makan, tidak masuk akal apabila makan menghabiskan waktu satu setengah jam. Kecuali makannya di emut hingga memerlukan waktu yang lama seperti itu.

Kunjungan kedua, ketika kami bertanya hal yang sama ke penjaga studio, si penjaga studio menjawab bahwa si operator sedang tidur (what???!, habis meronda yah mas?).

Setelah beberapa kali kecewa dengan studio itu, saya akhirnya mempunyai keinginan belajar tentang recording. Software pertama yang saya pakai adalah cool edit.

Dengan cool edit tersebut saya bisa merekam beberapa track audio. Namun hasilnya sangat "kurang" (karena alat dan juga sumber daya yang sangat buruk :p ). Akhirnya teman-teman band saya tidak percaya bahwa sebenarnya bisa merekam sebuah lagu tanpa harus pergi ke studio rekaman.

Karena tidak kepercayaannya tersebut, saya dan kawan se-band saya menyewa studio rekaman lagi. Studio yang kami sewa berada di cileduk, dan bernama PeniStudio. Agak sedikit p*rn0 yah namanya :D. Namun distudio ini lah saya mengambil banyak sekali ilmu. Bahkan saat ini pun saya masih hapal muka dari si operator yang kami panggil bang hasan tersebut. Operator ramah yang siap diajak berdiskusi. Oke, sebelumnya saya akan menceritakan kondisi studio yang kami sewa tersebut.

Seperti studio lainnya, studio ini mempunyai rack yang berisi perangkat berat seperti exiter, compressor, tube gain dan lain-lain. Disana juga terdapat dua buah ruangan, 1 untuk room monitor, dan yang satu lagi untuk vocal room yang biasanya juga menjadi drum room. Lalu apa yang membuatnya berbeda dengan studio-studio rekaman lain yang biasa disewakan?

Pertama yang sangat mencolok adalah tidak adanya perangkat drum, yup kami juga sempat bingung. Bahkan seperti sia-sia drummer kami membawa double pedal dan juga stick drum. Disaat itu saya berpikir, mungkin ada ruangan lain (yang mungkin tersembunyi) untuk merekam drum. Setelah mencari-cari seperti orang linglung, akhirnya saya menemukan sebuah pintu, pintu biasa yang terlihat tidak seperti pintu kedap suara. Setelah dibuka ternyata adalah....  toilet -_-".

Malu bertanya sesat dijalan, kami pun lalu bertanya soal perangkat drum tersebut ke operator rekaman. Dan sang operator rekaman nya menjawab bahwa di studio ini memakai drum sample yang diperintah dengan MIDI... Bla.. Bla.. Bla (si operator menjelaskan panjang lebar) software yang dipakai kalau tidak salah adalah FXpansion BFD1. Bukannya menjadi pencerah atas pertanyaan kami, jawaban si operator malah membuat kami puyeng tujuh keliling. Senyum-senyum tiga jari dengan anggukan sok ngerti kami tampilkan ke mata operator, takut-takut kami dibilang bodoh atau hal semacamnya (gengsi coy hahha).

Belum lagi ketidakadaannya perangkat ampli, head ampli, hingga efek untuk guitar yang biasanya guitarist kami setting sendiri sesuai dengan kenginan sang guitarist. Tanya lebih jauh ke operator, ternyata si operator memakai software untuk penggantian perangkat-perangkat diatas, tapi kok sampai sekarang saya tidak tahu apa yang si operator pakai, karena sampai saat ini saya belum pernah menjumpai VST dengan interface yang sama dengan VST yang dipakai disana.

Oh iya, software DAW yang dipakai kalau tidak salah cubase, tapi saya tidak memperhatikan versi berapa.

Selang beberapa lama setelah si operator menyeting berbagai alat berat, akhirnya...

"Oke... Sudah siap?
Tempo nya udah dapet atau mau dicari dulu?" tanya operator.

Seperti petir yang menyambar, pertanyaan terakhir membuat kami ketar-ketir. Seumur-umur belum pernah memakai metronom, bahkan baru beberapa kali mendengar suara metronom yang berada di tunner kepunyaan kawan kami, dan jangan kan untuk memakai metronom tersebut, guna dari metronom saja kami belum tahu -_-".

Tapi agar tidak di sangka amatir (walau memang sebenarnya amatir tapi kami berupaya dengan segala cara agar tidak terlihat amatir, gengsi coy hahaha), si guitarist menjawab "siap mas, tempo nya segini nih (sambil memainkan lagu yang ingin merekam)".

Setelah si operator beberapa kali memukulkan jari-jari nya di tombol space di keyboard komputer, lalu kami mendengar suara metronom yang berbunyi "tit tit tit tiiiit" berulang kali.

Lalu operatornya pun bertanya.
"Segini pas gk?"

Nah lo, gimana cara maennya kalo pake metronomnya nih!. Operatornya saat itu mungkin mengerti bahwa kami sebelumnya belum pernah memakai metronom. Lalu ia menjelaskan bagaimana memakai dan penerapan metronom dalam sebuah lagu.

Akhir nya guitarist kami pun mengerti. Dan track guide nya pun akhirnya selesai. "Saat nya untuk drum..." si operator rekaman berbicara dengan kencang.

Drummer kami pun dengan segera bergantian posisi duduk dengan guitaris kami yang telah menyelesaikan tugasnya memberi guide untuk drum. Drummer kami hanya cengangas-cengenges, ini main drum nya bagaimana?. Namun sebelum drummer kami bertanya, si operator sudah terlebih dahulu menjelaskan bahwa si drummer hanya perlu menjelaskan bagaimana ketukan drumnya kepada si operator.

Drum selesai dan masuk ke proses berikutnya... Hingga terakhir saya yang saat itu menjadi vocalist diband tersebut. Rasa gugup dibarengi takut karena suara yang sangat-sangat pas-pasan takutnya mencemari aransement dan instrument yang sebelumnya sudah direkam. Dengan candaan saya berkata "udah tuh, gk usah pake vocal juga udah bagus... Pulang dah yuk..." hahaha... Jujur saya orangnya pesimistis, jadi sebelum memulai pun saya pasti sudah berkata tidak bisa. Tapi dengan memberanikan diri, saya masuk ke vocal room yang sangat sangat sangat dingin tanpa kawan dan ditonton oleh beberapa orang dari ruangan sebelah yang hanya batasi sebuah kaca tembus pandang yang menyeramkan. Sambil menjalin tatap pandang dengan operator, akhirnya sesi vocal mau tidak mau harus dimulai.

Beberapa kali saya harus retake karena fals dan juga bernyanyi tidak pas dengan metronom. Namun berakhir dengan senyuman, disaat syair terakhir selesai direkam dan si operator pun berkata, sudah selesai.

Setelah semua part selesai, kami semua beserta operator pun keluar beristirahat dengan obrolan ringan dengan sesekali bertanya tentang rekaman yang telah kami lakukan dan tentang studio yang bisa dikatakann "berbeda" dengan studio lainnya tersebut.

"Yaudah, gw mau balancing dulu, terusin aja ngobrolnya" si operator rekaman nya pun berkata sambil berdiri dan melangkah ke pintu masuk studio.

Namun karena penasaran, kami pun semua mengikutinya masuk kedalam studio. Setelah balancing selesai, kami pun dapat menikmati lagu yang siap untuk di publikasikan. Beberapa kali lagu tersebut di putar di mobil menemani kami dalam perjalanan pulang.

Dan tahukah? Saya mencatat semua peralatan yang ada disana... Dari alat instrumentnya, alat rekaman nya, hingga spesifikasi hardware komputer nya... Hahaha... Konyol memang... Tapi alhamdullilah menghasilkan.

Saya mencatat kesemuanya itu disaat operator beristirahat keluar ditengah-tengah sesi rekaman. Ingin tertawa apabila mengingat nya.

Setelah dari studio tersebut, saya menekuni dengan serius audio recording, ilmu yang paling banyak diserap adalah yang berada di internet, mulai dari forum, blog, dan lain-lain.

Error dan trial telah saya alami, susah payah memberi kepercayaan kepada kawan-kawan bahwa sebenarnya bisa merekam sebuah lagu tanpa menyewa studio rekaman yang biayanya relative mahal. Dan akhirnya salah satu kawan memberikan sejumlah uang untuk modal mendirikan home recording.

Modalnya tidak terlalu besar, namun dapat berkembang dengan membeli alat-alat yang sebelumnya tidak bisa dibeli dengan modal tersebut. Seperti guitar dan bass.

Sebelumnya, disaat kami belum membeli guitar dan bass, kami terpaksa meminjam nya ke kawan-kawan kami. Indahnya perjuangan... Dan alangkah baiknya kawan-kawan kami yang bersedia meminjamkan alat-alat yang bisa dibilang tidak murah tersebut.

Saat ini, studio yang saya dirikan masih beroprasional di dalam kamar saya (kadang-kadang pindah juga ke rumah kawan sih :p). Dan biaya penyewaan adalah sebesar 250ribu per shift. Dan sangat-sangat alhamdulillah yang booking selalu penuh.

Saat awal berdiri, saya hanya mematok biaya 150ribu pershift, namun lambat laun terus dinaikan seiring dengan hasil portofolio / sample demo yang telah dimiliki.

So... Home recording bisa dijadikan lahan bisnis bukan? Dengan promosi yang baik, hasil dan pelayanan yang memuaskan, akan banyak band-band yang akan selalu menghubungi untuk menyewa studio mini anda.

Apalagi apabila si operator menjadikan "teman" para klien nya, selalu berdiskusi, dan yang terpenting ramah kepada klien nya... Sudah pasti studio anda pasti diburu para musisi. Oh iya... Yang terpenting adalah situasi ditempat anda, di tempat saya kebanyakan musisi nya adalah musisi yang mengasung genre keras, seperti punk rock / melodic, metal, emo, HC dan yang gitarnya distorsi deh pokok nya. Nah oleh sebab itu, saya paling tidak sedikit mengetahui band-band sejenis yang biasa di jadikan influence mereka. Soalnya sering juga mereka menyebut kan bahwa band dia ingin sound dibeberapa part seperti band "X". Walau tidak mirip 100% tapi paling tidak saya berusaha untuk memberi apa yang diinginkan musisi.

Wah panjang yah...
Mohon maaf sebelumnya jika postingannya ini malah seperti curhatan dibandingkan dengan artikel yang berisi ilmu.

22 May 2010

Komputer untuk home recording audio

Jaman semakin canggih, informasi begitu mudah untuk didapat, harga-harga peralatan rekaman dan musik semakin murah, beberapa alat-alat analog pun saat ini sudah bisa digantikan dengan software-software simulator. Mungkin hal-hal diatas adalah beberapa kemudahan yang didapat untuk para sound engineering atau operator hingga musisi saat ini.

Bagaimana tidak, saat ini seorang musisi dari kalangan professional hingga anak SMA pun dapat menjadi sound engginer dengan membuat sebuah studio home recording di dalam rumah atau kamarnya. Dengan bantuan sebuah komputer, software dan beberapa alat pendukung lainnya, seorang musisi bebas berkarya meluapkan materi-materinya untuk dituangkan dalam sebuah lagu maupun album yang siap di edarkan atau di perjual belikan.

Lalu sebenarnya apa alat utama untuk membangun sebuah home recording audio?
Menurut saya yaitu sebuah komputer.

Ya, hanya dengan sebuah komputer dan software sequence seperti fruity loops saja sebenarnya anda sudah dapat membuat musik digital, tanpa memakai alat-alat lain seperti mixer, preamp dan lain-lain.

Lalu komputer seperti apa yang dibutuhkan untuk membuat sebuah home recording studio?
Banyak sekali pertanyaan seperti itu yang ditanyakan ke saya. Namun menurut saya, tidak ada spesifikasi khusus apa dan bagaimana sebuah komputer untuk digunakan sebagai komputer rekaman.

Sebagai contoh, apabila anda seorang freak gamer, pasti komputer anda memiliki VGA yang baik atau bagus untuk dapat memaksimalkan display game yang sedang anda mainkan.

Namun dalam membangun sebuah komputer untuk home recording studio, anda tidak perlu mempunyai VGA dengan spesifikasi yang sangat tinggi, yang perlu anda perhatikan adalah pada bagian soundcard nya.

Gaming computer = VGA
Recording computer = Soundcard

Untuk hardware-hardware yang lain dapat disesuaikan dengan spesifikasi minimum dari recording software yang anda gunakan. Namun lebih baik spesifikasi komputer anda lebih tinggi dibanding dengan spesifikasi minimum yang diinginkan oleh software nya.

Sebelum saya menjelaskan tentang masing-masih hardware komputer rekaman, berikut adalah spesifikasi komputer yang pernah saya pakai, dan hingga saat ini saya pakai untuk membangun sebuah home recording studio. Dan sekali lagi saya tekankan kepada anda, jangan pernah berkecil hati karena tidak mempunyai komputer dengan spesifikasi tinggi. Karena banyak dari kawan-kawan saya yang belum memulai, namun sudah berkecil hati terlebih dahulu karena komputer yang ia miliki tidak mempunyai spesifikasi yang tinggi.

Saat saya masih SMA, saya memakai komputer dengan spek yang sangat minim atau rendah, komputer ini saya pakai kira-kira sekitar satu tahun lamanya untuk mempelajari rekaman digital. Dengan komputer yang pertama kali saya beli tahun 2003 ini, saya dapat mengenal apa itu audio recording dan apa itu musik digital.
Spesifikasi nya yaitu:
- Prossesor Celeron Pentium 4 1,8Ghz
- Ram ddr1 256mb
- Hardisk ATA 40gb

Dengan spesifikasi tersebut, saya dapat merekam membuat beberapa lagu dengan bantuan fruity loops 5 dan cool edit.

Karena saat itu saya sangat berniat sekali untuk membangun sebuah home recording, akhirnya saya upgrade dengan uang yang saya kumpulkan sebelumnya.
Spesifikasinya antara lain:
- Prosesor Pentium D 3ghz
- Ram ddr2 2gb
- Hardisk SATA 80gb 7200rpm

Dengan komputer tersebut, saya menyewakan home recording tersebut ke band kawan-kawan saya. Banyak sekali ilmu yang saya dapat dari komputer dengan kedua spesifikasi diatas. Karena niat saya semakin bulat untuk membangun sebuah home recording dengan kualitas yang baik. Akhirnya saya menjual komputer tersebut dan merakit komputer baru.
Spesifikasi komputer yang saya rakit yaitu:
- Prosesor Pentium Dualcore 2,6Ghz
- Ram ddr2 2gb
- Hardisk SATA 250gb 7200rpm

Dengan spesifikasi diatas yang saya pakai saat ini, hampir semua software-software recording bisa saya pakai. Beberapa album demo hingga full album yang release pun banyak saya buat dengan komputer tersebut.

Bagaimana? Tidak perlu berkecil hati bukan? Apalagi bila anda mempunyai spesifikasi komputer lebih tinggi dari spesifikasi komputer yang saya pakai saat ini. Sudah pasti anda siap untuk belajar membangun sebuah home recording studio.

Desktop computer atau laptop computer?
Sudah pasti saya memilih desktop. Karena laptop diciptakan untuk yang ingin mobile dan tidak dibuat untuk dipakai sangat lama. Bayangkan, untuk membuat satu buah lagu dengan kualitas yang bagus saja anda memerlukan setidaknya satu shift atau sekitar 6jam. Laptop apabila dipakai sangat lama sudah pasti akan memperpendek umur hardware-hardware di dalamnya. Menurut kawan-kawan yang berdiskusi di forum musiktek, kerusakan yang paling sering terjadi pada hardware harddisk dan lcd. Mungkin karena panas yang timbul dari hardware tidak dapat di olah dengan baik oleh fan atau kipas yang ada di laptop, sehingga udara panas tidak dapat di keluarkan dengan baik.

Tidak seperti komputer desktop, komputer desktop yang saat ini saya miliki hampir di pakai 24 jam full. Entah itu dipakai oleh saya maupun keluarga saya.

Dan juga apabila anda memiliki laptop dan dekstop dengan spesifikasi yang sama. Mungkin performanya akan lebih unggul desktop di bandingkan laptop.

Windows, Mac atau linux?
Dalam pertanyaan ini saya pasti akan menyingkirkan sistem operasi linux. Karena banyak software-software untuk recording yang bagus tidak compitable dengan sistem operasi linux. Anda bisa memilih OS windos atau pun MAC operating system.

Prosesor
Prosesor dapat diasumsikan sebagai "otak" dari sebuah komputer, segala sesuatu yang yang anda perintahkan di olah dan di proses dalam hardware ini. Beberapa software atau plugins rekaman memerlukan prossesor dengan spesifikasi yang tinggi untuk memakainya. Jadi menurut saya alangkah baiknya anda memilih processor yang core nya lebih dari satu, seperti dual core, core to duo, hingga core to quad. Hindari processor atom, celeron dan sejenis nya.

Untuk merk, anda bebas memilih. Bisa prossesor dengan merk Intel maupun prossesor dengan merk AMD dan lain-lain.

Harddisk
Beberapa software recording akan menyita banyak ruang di harddisk anda. Alangkah baiknya juga apabila anda memiliki dua harddisk, ingat dua harddisk bukan dua partisi. Dan juga pilih harddisk dengan kecepatan baca dan tulis 7200rpm atau lebih (kalau ada). Karena beberapa software seperti FX Pansion BFD memerlukan kecepatan harddisk bukan RAM.

Harddisk pertama digunakan untuk menginstal software-software recording nya. Seperti daw hingga plugins-plugins nya.

Hardisk kedua digunakan untuk project-an nya yang berisi audio-audio maupun settingannya.

Alangkah baiknya koneksi yang di pakai adalah SATA bukan ATA.

RAM
Pasti anda sudah mengetahui apa fungsi dari RAM ini. Semakin besar Ram yang anda punya, akan semakin baik. Apalagi beberapa software seperti EZ Drummer akan menyimpan sample sementara di RAM ini. Hindari SDRAM dan DDR1.

Apa butuh VGA dengan spesifikasi yang tinggi?
Tidak, karena kita tidak terlalu membutuhkan display dengan ketajaman yang tinggi bila hanya untuk rekaman. VGA onboard bagi saya sudah cukup untuk komputer recording.

Namun apabila anda ingin memakai dua monitor seperti gambar disamping tersebut, anda tidak bisa menggunakan VGA onboard.


Monitor
Alangkah baiknya anda memakai monitor LCD dari pada monitor CRT. Monitor CRT dapat menimbulkan suara dengung feedback apabila alat intrument yang ingin kita rekam terlalu dekat dengat monitor CRT tersebut. Contoh, apabila anda sedang ingin merekam guitar dan jarak antara guitar dengan monitor CRT terlalu dekat akan bisa menyebabkan suara dengung feedback yang mengganggu. Lampu neon juga bisa menyebabkan suara dengung feedback. Jadi alangkah baiknya apabila anda memakai monitor LCD dan di ruangan anda tidak memakai lampu neon.

Hal-hal lain?
Pilih dengan tepat kipas atau fan. Entah itu fan prosesor maupun fan yang berada di chasing komputer anda. Karena fan bisa menyebabkan kebisingan atau berisik yang sudah pasti mengganggu dan lebih parahnya bisa terekam.

Apabila terasa kurang lengkap atau ada yang ingin ditanyakan, silahkan untuk menulis komentar atau pertanyaan anda di box komentar dibawah. Mudah-mudahan saya bisa memberi solusi atau menjawab. Namun apabila saya tidak bisa menjawab, mari kita berdikusi :D

Semoga bermanfaat
Salam :)

24 April 2010

Tips dan trik untuk musisi / pemain musik sebelum tracking / rekaman / recording, mixing dan mastering

Untuk para pemain musik, anda perlu mengetahui, kalau sebuah musik / lagu yang bisa tersampaikan dengan baik ke pendengar itu adalah hasil "kerja sama" antara Sound Engineering (SE) atau yang lebih kita kenal dengan sebuatan operator (dari tracking, editing, mixing, sampai mastering) dengan para musisi / pemain musik...

kerjasama yang baik menghasilkan hasil yang baik... Benar tidak?!?

anda ingin membuat sebuah demo??,
atau bahkan sebuah album yang mempunyai kualitas yang bagus??
Silahkan membaca artikel dibawah ini... :)

 1. JANGAN BERPIKIR BAHWA ADA SEBUAH KEAJAIBAN DI STUDIO
Terlepas dari sebuah teori, sering banget para musisi / pemain musik berpikir kalau seorang Sound Engineering itu seperti tukang sihir yang apa bila sudah memutar-mutar kenob rack / mixer, click mouse di sana di sini dan, "tadaaaaa"....
Jadilah sebuah lagu yang pasti enak di dengar, bersih, jelas artikulasi di setiap instrument, dan pasti terdengar seperti yang kita bayangkan...
hhaa... dan itu semua tidak benar. jangan sekali-kali berpikir seperti itu.

Walau pun anda recording / rekaman di studio-studio besar, bahkan studio yang ada di luar negeri yang mempunyai alat-alat yang sangat-sangat-sangat-sangat mahal, mempunyai speaker monitor yang benar-benar flat, original software seharga puluhan juta, mixer yang mempunyai ratusan channel (emang ada yah??) dengan brand terkenal, bertumpuk-tumpuk rack yang satu rack nya bisa berisi puluhan hardware analog maupun digital (kira-kira tingginya bisa sampai 12 meter :# :p ) microphone dengan bentuk yang aneh dan mungkin hanya beberapa studio yang mampu membelinya

tapi bro...
TIDAK ADA YANG NAMANYA ALAT AJAIB PEMBAGUS SUARA

nah, untuk itu, sebaiknya anda melakukan persiapan sebelum melakukan proses rekaman / tracking / recording / take / istilah yang lain yang mungkin alfin tidak tahu :p

Contoh:
-Anda mempunyai gitar yang anda sayangi, walaupun anda mengetahui gitar yang ada di studio yang anda sewa jauh lebih bagus, anda tetap bersikeras untuk membawa gitar kesayangan anda. nah sebelum membawa gitar kesayangan anda ke sutio rekaman, alangkah baiknya apabila anda mengganti senar gitar anda, lihat fret-fret gitar anda, apakah masih bagus atau tidak, apabila gitar yang anda punya adalah sebuah gitar active, silahkan lebih dahulu mengganti baterai yang ada di dalam gitar anda.

-Apabila anda seorang drummer, tidak mempunyai kit drum sendiri dan hanya bergantung pada drum yang ada di studio rekaman yang anda sewa, alngkah lebih baiknya memilih studio yang sudah mempunyai sample untuk bisa kita dengarkan, apabila sample tersebut suara drumnya seperti yang anda inginkan, silahkan untuk survei lebih dahulu ke studio yang ingin anda sewa. lihat kit-kit yang mereka pakai, lalu apabila setting-an nya tidak seperti yang anda inginkan, bertanyalah pada Sound Engineering nya apakah boleh merubah / menyeting drum nya seperti yang anda ingin kan, oleh sebab itu, sebaiknya anda membawa kunci drum sendiri (paling tidak ada sedikit modal :p )

-Untuk Vocalist, sebelum rekaman alangkah baiknya menjaga kesehatannya, jangan sampai terkena flu yang akhirnya menderita suara bindeng, kemungkinan besar apabila anda bindeng, suara anda dengan musik tidak akan menyatu atau suara anda tidak mengikuti tune musik atau bahasa kasarnya adalah FALS :p . walau pun saat ini banyak software yang berguna untuk meng-tune kan suara vokal anda, namun lebih natural lebih bagus. Lalu beberapa jam sebelum rekaman / tracking vocal, silahkan melakukan relaksasi atau pemansan agar pita suara anda tidak kaget saat nanti anda rekaman. apabila anda baru tersadar beberapa hari sebelum take vocal suara anda serak dan ingin habis, coba untuk mengunyah kencur (mentah-mentah) walau rasanya agak kurang meng-enakan, namun kecur sudah teruji khasiatnya, kunyah lalu telan air dari kunyahan kencur tersebut. lalu ampasanya di buang saja (tapi apa bila anda suka silahkan untuk menelannya... hhe... :p )

-dan masih banyak yang harus anda lakukan untuk melakukan persiapan sebelum rekaman :#
    Jangan sekali-sekali terpikirkan di benak anda "ah, nanti pada saat proses mixing kan bisa di benerin"
    Atau apabila Sound Enginnering / Operatornya berbicara seperti itu, maka sudah pasti ia adalah seorang Sound Engineering amatiran

    -Band yang bagus, hasil rekamannya bisa di buat jelek oleh seorang Sound Engineering amatiran

    -Band yang jelek, hasil rekamannya bisa dibuat SEDIKIT lebih bagus oleh Sound Engineering yang bagus..

    2. BERKOMUNIKASILAH DENGAN SOUND ENGINEERING.
    Komunikasi antara Sound Engineering dengan  pemain musik yang ingin rekaman sangat penting sekali untuk mendapatkan sound yang di inginkan...
    Sound Engineering perlu mengetahui informasi dari kita, sound seperti apa yang musisi inginkan..
    Kalau Sound Engineering nya tidak inisiatif untuk bertanya, musisi yang harus membuka dan memulai komunikasi lebih dahulu.

    Jangan berpikir untuk takut sama Sound Engineering. Tidak gigit kok... guk guk :# :p
    Anda kan membayar, dan juga seorang Sound Engineering juga tidak haus akan materi kok, saya yakin, mereka juga ingin membuat lagu kita bagus kok, kan juga membawa nama studio yang anda sewa :p

    3. PENDEKATAN DENGAN SOUND ENGINEERING / OPERATOR
    Nah cara yang paling bagus dan mujarab untuk membuat Sound Enginerring semakin semangat dan bekerja keras adalah membuat dia seolah-olah menjadi salah satu personil dari band anda

    Caranya??
    Apabila anda membawa makanan atau minuman, coba untuk menawarkan atau sisihkan di meja Operator nya. dan apabila Sound Engineering / Operatornya merokok, tanya rokoknya apa, lalu beliin deh sebungkus, pasti berhasil. dan sound Sound Engineering / Operatornya pasti akan berpikir seperti ini "karya anda adalah karya saya juga" :@ . Dengan demikian, sang SE akan lebih merasa bahwa dia sedang mengerjakan karya bersama bukan karya orang lain.
    (pasti nanti Sound Engineering / Operatornya pura-pura untuk menolak, biasa....gengsi.... beda sama sama saya... kalau saya, apabila ditawarkan langsung saya ambil itu semua makanan yang di tawarkan... :p :D :# :@ )

    4. JANGAN PERNAH BILANG SAMA SE NYA KITA INGIN SUARANYA KAYA BAND "X atau Y atau huruf alfabet lainnya".
    wah kata-kata tersebut sering sekali saya dengar :p
    Sebuah album yang telah rilis kepasaran itu melalui proses minimal 3 tahap yaitu proses tracking, proses mixing, dan proses mastering, jadi jangan pernah membanding-bandingkan hasil tracking atau mixingan dengan album orang lain yang sudah di mastering

    Jadi jangan sekali2:
    -Mas..mas..mas..saya ingin gitarnya seperti suara gitarnya paul gilbert.
    -Bang..bang..bang..saya ingin drumnya seperti suara drumnya slipknot
    -Om..om..om..saya ingin suara vocal saya seperti suara vocalnya gita gutawa :p

    Iya Kalau Sound Engineering tersebut mengetahui band / artist "X atau Y atau huruf alfabet lainnya" yang telah kita sebutkan.

    lebih baik minta nya seberti ini:
    -Mas, saya suka suara gitar van halen karena saya pikir sound nya akan cocok untuk lagu ini karena deep nya dapet tapi tidak menghilangkan high nya,

    Jadikanlah seorang Sound Engineering / Operator sebagai teman berdiskusi tentang sound...
    Pasti Sound Engineering / Operator akan lebih bisa menterjemahkan bahasa kita ke dalam hasil mixinganya.. kalau musisi masih meminta "saya ingin soundnya seperti band X" berarti sama saja musisi tersebut tidak mengetahui cara kerja Sound Engineering / Operator, karena Sound Engineering / Operator hanya mengcapture sound yang musisi hasilkan dan menempatkannya ke dalam album /  lagu...

    5. ARANSEMENT YANG BAGUS ADALAH HAL YANG PALING UTAMA
    Yup, musik yang bagus itu bukan dari hasil proses tracking nya, proses mixing nya atau proses mastering nya.
    ARANSEMENT adalah bahan bakar utama yang akan menentukan kualitas dari sebuah lagu hasil tracking, mixing dan mastering.

    Percuma saja untuk memaksa Sound Engineering / Operator untuk kerja rodi selama 3 hari full pagi siang malam tanpa tidur... kalau memang aransement tidak bagus... lalu mau di bagaimanakan lagi??... tidak akan mampu komunikasi dengan pendengar...

    Semoga bermanfaat :)

     
    Copyright 2010 HOME RECORDING TUTORIAL. All rights reserved.
    Sewa Kamera Jakarta