Showing posts with label Equalizer. Show all posts
Showing posts with label Equalizer. Show all posts

08 October 2014

Parameter band Equalizer

Di EQ kadang kita suka nemuin 2 tipe parameter band: "Q" dan "bandwith" yang sebenernya sama aja setau mimin, bedanya hanya di besar nominal.

Parametriq EQ 1
Kalau make "Q" maka semakin kecil angka akan semakin besar slope nya. Sementara kalau bandwith semakin besar angka yang ada di bandwith maka semakin besar slope nya.

Contoh perbandingan: Parametriq EQ 1 dan 2 yang ada di FLStudio.

Parametriq EQ 2


17 March 2014

N6 Paragraphic Equalizer, VST Equalizer Gratis Dari RAZ AUDIO


RAZ AUDIO telah merilis N6 Paragraphic Equalizer, Freeware VST Equalizer dengan presisi tinggi dan zero latency. Sayangnya, N6 Paragraphic Equalizer hanya di peruntukan untuk pengguna Windows 32BIT saja.

Music production tools should serve the user, not the other way round. This is why we offer the ‘N6′ EQ for FREE, no licensing, registration or locking devices needed. The N6 offers a natural work flow – just pick an EQ band and move it around to get the desired effect. If you prefer to use knobs, they are there for you with “control+click” for returning to default and “shift+click” for fine tuning.

Anda dapat langsung mendownload N6 Paragraphic Equalizer di web nya RAZ AUDIO, Besarannya hanya 2,2MB saja, berupa file *.DLL dan hanya diperuntukan untuk pengguna Windows 32BIT.

Yang keren dari plugin equalizer ini adalah, anda akan menemukan fitur spectrum analyzer, yup.. fitur yang biasanya hanya ada di plugin berbayar ini, sudah build in didalam plugin VST N6 Paragraphic Equalizer.


06 October 2013

EQ Part 2

Sudah lama sepertinya gw ga nulis lagi. Ya mohon maaf kawan, dikarenakan kegiatan di dunia nyata sangat menyita waktu apa boleh buat gw terpaksa harus "cuti" dulu. Hehehe.. :)
Sesuai janji gw beberapa bulan yang lalu, kali ini gw akan melanjutkan artikel EQ part 2. 

Filter

Sesuai dengan namanya, fitur yang satu ini bertugas untuk meng-cut level dari suatu frekuensi dalam jumlah yang ekstrim dan biasanya berguna untuk meng-cut noise yang tidak diinginkan. Filter sendiri terdapat 2 jenis yaitu Low Pass Filter (LPF) dan High Pass Filter (HPF).

Low Pass Filter (LPF)


Low Pass Filter berfungsi untuk menyaring High Frequency dan membiarkan Low Frequency lewat. Filter ini cocok digunakan untuk instrument yang dominan di frekuensi rendah seperti kick dan bass. Karena dengan filter ini kita dapat mengontrol berapa banyak High frekuensi yang masuk. Low Pass Filter juga bisa mengcut spillage (Instrument lain yang ikut terekam) seperti Hat, Snare, Cymbal.




High Pass Filter (HPF)

High Pass Filter berfungsi sebaliknya, menyaring Low Frequency dan membiarkan High Frequency  lewat. Filter ini sangat berguna untuk menghilangkan gemuruh (rumble bass) yang disebabkan oleh kesalahan baik saat live maupun saat recording. Dewasa ini, banyak brand microphone yang menyediakan fitur High Pass Filter untuk mencegah masuknya rumble bass yang berasal dari getaran di lantai dan menjalar ke stand microphone. High Pass Filter ini juga sebaiknya digunakan saat mau menggunakan suatu microphone menjadi Overhead agar si microphone hanya menangkap frekuensi dari cymbal.

Band Pass Filter (BPF)

Band Pass Filter memungkinkan kita untuk membiarkan frekuensi tertentu untuk lewat dan juga menyaring frekuensi dari kedua sisi baik. Lihat gambar disamping untuk lebih jelas. 





Notch Filter



Notch Filter adalah sebutan untuk menggambarkan kurva EQ dengan posisi maximum cut (sekitar 10 dB cut) dan "Q" yang kecil (sekitar 0,1). Ini berguna untuk menghilangkan frekuensi yang tidak kita inginkan tanpa mempengaruhi frekuensi yang ada di sekitar. Umumnya digunakan untuk mengurangi Sibilance (pengucapan hurup S dan T yang berlebihan sehingga menyebabkan sinyal menjadi noise).











Kegunaan Lain EQ

Penekanan Feedback

Ini biasanya digunakan saat live. Jika menemukan feedback (noise yang dihasilkan dari sound yang looping antara mic dan speaker, itu lho yang bunyinya melengking tajam kayak "ngggiiiiing") maka kita bisa menghilangkan nya dengan cara mencari frekuensi feedback dengan Parametriq EQ dan mengcut nya menggunakan Q yang kecil sehingga tidak mengganggu frekuensi lain.

Room Voicing
EQ juga bisa digunakan untuk mengatur kualitas suara dari sebuah ruangan (umum nya digunakan saat live). Kita dapat mengontrol Peak dan Dip yang dihasilkan dari akustik ruangan tersebut sehingga kita dapat menjaga agar frequency response di ruangan tersebut tetap flat. Kita bisa menggunakan lagu yang kita hafal karakteristiknya untuk membantu dalam pengerjaan room voicing ini.


Klasifikasi Suara

Sebagai bonus gw bakal ngasih info jenis-jenis suara berdasarkan frekuensi yang mampu didengar oleh manusia.

Subsonik (1-20 Hz)

Dalam range ini suara lebih cendrung dirasakasn daripada didengar. Kebanyakan speaker (bahkan sub-bass unit) tidak mampu memproduksi suara dalam rentang ini. Karena itulah kebanyakan EQ tidak mengcover rentan frekuensi ini.

Very Low Bass (20-40 Hz)

Jenis ini lebih terdengar seperti suara getaran daripda suara as in pitch. Boosting di rentan frekuensi ini harus hati-hati karena tidak semua genre musik akan menjadi bagus jika kita boost. Contoh, Kita bisa memberi kesan "depth" pada musik rock tapi akan aneh jika kita coba boost di musik jazz. Boosting di rentang frekuensi ini dapat memberikan efek dramatik jika digunakan untuk sound effect dalam film. Tidak disarankan untuk boost di lagu-lagu yang bertempo cepat.

Bass Frequency (40-160 Hz)

Pada rentang ini suara sudah terdengar as in pitch. Jika kita ngeboost frekuensi atas di rentang ini (contoh: 100 hz) maka akan memberikan kesan punch. Dan jika ngeboost frekuensi bawah di rentang ini (contoh: dibawah 100 Hz) maka akan memberikan kesan warmth tetapi efek sampingnya adalah sound akan kehilangan definisi nya (Bisa terdengar boomy). Jenis ini pula yang orang sering salah paham menjadi "Sub-Bass"

Low Mid Frequency (160-320 Hz)

Frekuensi dalam rentang ini lebih terdengar kasar. Dulu sekitar tahun 90an kebanyakan para engineer enggan untuk ngotak-ngatik frekuensi-frekuensi dalam jenis ini. Tetapi sebenernya untuk beberapa lagu justru akan memberikan efek bagus. Umumnya untuk menambah clarity pada beat-beat di genre dance.

Mid Range (320-2,5 kHz)

Memotong ekstrim pada frekuensi mid akan memberikan efek telepon.

High Mid/Presence (2,5-5 kHz)

Ini adalah frekuensi yang sangat sensitive bagi kuping manusia. Ini mungkin disebabkan kebanyakan frekuensi suatu obrolan/omongan manusia ada di frekuensi ini. Boosting di rentang ini akam memberikan clarity yang lebih baik. Disarankan saat rekaman sebaiknya kita menghilangkan sibilance karena jika kita memotong sibilance dengan menggunakan EQ maka itu akan mengurangi clarity pada sebuah audio track.

High Frequency (5-10 kHz)

Pada rentang ini kebanyakan hanya ada harmonic, jika kita ngeboost di rentang ini maka akan memberikan efek bright pada sebuah track.

Very High Frequency (10-20 kHz)

Rentang ini hanya terdapat harmonic. Jika kita ngeboot di rentang ini maka akan memberukan efek brilliance pada sebuah track. (Coba di EQ untuk lebih jelas)

Sekian artikel kali ini dan sampai jumpa pada artikel berikutnya.. :)



11 August 2013

EQ Part 1

Artikel kali ini sebenernya terinspirasi dari "insiden" yang gw alamin kemaren. Dimana ada seorang anak nanya "EQ itu apa sih?" dengan nyolot nya. Setelah gw pikir-pikir dengan kepala dingin dan reminiscence ke jaman dahulu kala ketika gw masih baru banget "maen" DAW dan ngerasain susahnya dapet sumber berbahasa Indonesia tentang EQ. Maka kali ini dengan semangat 45 gw akan mengangkat artikel tentang EQ.

Apa itu EQ?

Secara sederhana EQ (yang berasal dari kata Equalizer) adalah sebuah perangkat yang berguna untuk mengatur frekuensi. Dalam mixing umumnya engineer akan mengunakan EQ untuk hal-hal sebagai berikut:

  1. Untuk mengatur frekuensi dari suatu sumber (instrument, sample, etc) agar tidak saling berebutan tempat ketika di play berbarengan. 
  2. Untuk mengatur frekuensi secara keseluruhan dari tiap instrument yang sudah di mix.

Jenis-Jenis EQ

Sebenernya banyak jenis-jenis EQ, tapi kali ini saya cuma membahas 2 jenis yang sering kita temui di DAW yaitu:

Graphic EQ

(1) Graphic EQ yang terdapat di FL Studio (EQUO)
Eq ini memungkinkan kita untuk mengatur range frekuensi dalam skala besar. Disebut graphic EQ karena kita hanya bisa mengatur frekuensi yang telah disediakan.
akan yang pada akhirnya akan membentuk sebuah grafik. Cara kerjanya adalah kita tinggal menaikan (boost) atau menurunkan (cut) gain dari frekuensi-frekuensi yang mau kita atur. EQ ini hanya memiliki peak/dip curves dengan Q yang tetap (akan di bahas di bawah).

Parametriq EQ


 (2) ini adalah salah satu parametriq eq virtual yang terdapat di pro tools

EQ in memungkinkan kita untuk mengatur segala parameter yang ada di dalam nya baik frekuensi, Q/Bandwith, Gain, Filter. dll. parametriq EQ biasanya mempunyai 2 bentuk EQ curve yaitu Shelf Curve dan Peak/Dip/Bell curve dan juga mempunyai 4 macam filter yaitu High Pass Filter, Low Pass Filter, Band Pass Filter, Notch Filter (lagi-lagi akan dijelaskan dibawah).

Macam-macam EQ curves

Shelf Curve



Shelf curve merupakan kurva yang merubah level dari suatu rentang frekuensi menjadi sama besar terbatas sampai titik yang ditentukan (cut off point). Bingung ya? Begini jika kita menggunakan Shelf curve seperti yang dicontohkan pada gambar diatas maka rentang frekuensi yang ditunjukan pada zona merah dan biru akan memiliki kenaikan atau penurunan level yang sama sampe titik cut off.

Pada zona merah gw memasang shelf curve di 134 Hz dan mempunyai kenaikan level (boost) sebesar 11 dB. Maka semua frekuensi di rentang 20-100 Hz akan naik level (gain) nya sebesar 12 dB sementara frekuensi yang berada pada rentan 100-134 Hz akan semakin kecil nilai kenaikan nya.
Begitu juga dengan zona biru, jika gw memasang Shelf Curve di 3.05 khz dan mempunyai penurunan (cut) sebesar 12 dB. Maka semua frekuensi di rentang 5-20 kHz akan terpotong gain nya sebesar 12 dB sementara frekuensi sekitar 3.05-5 kHz akan semakin kecil nilai cut nya.

Peak/Dip/Bell Curve

Demi kemudahan dalam penulisan, maka mulai dari sini gw akan memakai Bell curve. :)

Bell curve adalah kurva yang merubah level dari suatu rentang frekuensi dari 0 menjadi maximum (boost/cut) di frekuensi tertentu dan kembali ke 0 lagi. Seperti yang dicontohkan pada gambar dibawah ini, terlihat bahwa titik maksimum dari bell curve ini ada di frekuensi 180 Hz.



To Be Continued..
Sekian artikel EQ part 1, di EQ part 2 kita akan membahas tentang fitur-fitur EQ yang lain seperti filter dan juga beberapa informasi yang (semoga) berguna :)

See yaa..

03 April 2012

Menjinakkan Sibilan pada Vocal dengan Deesser Ganda

Menurut wikipedia, Sibilan atau konsonan desis adalah cara artikulasi konsonan frikatif (desah) dan afrikat (gesek), dibuat dengan mengarahkan aliran udara dengan lidah menuju tepi pangkal gigi, yang diadakan berdekatan. Contoh suara sibilan adalah konsonan pada awal kata saya, zirah, syair, cakap, jahil; konsonan kedua dalam kata visi; konsonan pada kata susu. Pada istilah audio, sibilan adalah bunyi desis yang berlebihan sehingga mengganggu tatanan suara secara kesuluruhan.

Sibilan bisa berasal dari vocal manusia atau instrumen musik lainnya seperti crash cymbal, gesekan antar benda logam dan lain-lain. Namun pada pembahasan kali ini, saya akan memfokuskan pada kasus vocal manusia. Untuk mereduksi sibilan, you can simply throw a single deesser to your vocal track and process your vocal track with EQ, compressor, reverb, and blah blah blah. Tapi bagaimana jika setelah melakukan EQ-ing dan compressing bunyi sibilan yang sebelumnya sudah tereduksi kembali muncul? Kemungkinan dari kita mungkin akan berpendapat “pasti EQ nya kebanyakan boosting high tuh, coba turunin”. Tapi ketika high nya diturunkan, tujuan saya EQ-ing untuk mendapatkan shape yang saya inginkan tidak tercapai. Apakah ini berarti kita harus mengorbankan salah satunya? Tentu tidak! Bagaimana caranya? Don’t go anywhere, check this out!

Jadi inilah audio sample dari track vocal growl yang masih raw tanpa sentuhan plugin apapun.


link : http://soundcloud.com/distorsi/menjinakkan-sibilan-pada

Apa yang anda dengar? Growl yang cadas? Itu sajakah? Dengarkan sekali lagi! Sangat jelas bahwa konsonan desis terdengar sangat berlebihan!

Untuk memecahkan masalah tersebut, saya gunakan deesser sebagai insert pertama yang bekerja dengan mereduksi 3kHz ke atas saat konsonan desis muncul.


Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

link : http://soundcloud.com/distorsi/menjinakkan-sibilan-pada-1

Yap, konsonan desis yang mengganggu sekarang sudah diselesaikan. Tapi saya merasa bahwa vocal sangat menggulung dan terlalu berdinamika sehingga saya melakukan EQ-ing to shape the sound dan compressing it quite hard to make it less dynamic and a little bit distorted.


Dan hasilnya adalah sebagai berikut:


link : http://soundcloud.com/distorsi/menjinakkan-sibilan-pada-1

Tujuan saya melakukan EQ-ing dan compressing tercapai, tapi apa yang terjadi? That annoying sibilant is back! Kita tidak perlu berkompromi untuk mengorbankan sound shaping atau sibilan. Just simply throw a desser again AFTER EQ&compressor, namun yang menjadi kunci pada deesser kedua adalah saya menggunakan mode narrow sehingga frekuensi yang tereduksi adalah frekuensi yang benar-benar merupakan sumber sibilan sehingga tidak mengganggu frekuensi yang lain dan menyebabkan vocal terdengar dull.

Maka chain akhirnya adalah deesser > EQ > compressor > deesser 


Dan hasilnya adalah sebagai berikut:


link : http://soundcloud.com/distorsi/menjinakkan-sibilan-pada-2

Sekarang coba bandingkan audio vocal raw dengan audio vocal setelah melalui berbagai proses desser, EQ, dan compression. Pada vocal raw, sibilan sangat eksplosif, pada vocal setelah diproses, sibilan tetap ada tapi tidak overwhelming. Pada vocal raw, sibilan terdengar menggulung dan sangat berdinamika, pada vocal setelah diproses, vocal tidak lagi menggulung dan dinamika vocal lebih stabil. Dengan deesser ganda, tidak perlu khawatir dengan kompromi antara sibilan dan overall frequency curve.

Sekian artikel kali ini mengenai “menjinakkan sibilan pada vocal dengan deesser ganda”. Sesungguhnya banyak jalan dalam mixing untuk menghasilnya bunyi seperti apa yang kita inginkan, be creative and out of the box!

01 April 2012

Bagaimana Cara Mixing Bass Untuk Genre HARDCORE

Tidak sulit menemukan diskusi bagaimana mixing gitar, drum, atau bahkan mastering, tapi lain halnya dengan bass yang kurang mendapat perhatian, walaupun perannya tidak sangat dominan tetapi bass memainkan peran penting dalam mengisi frekuensi rendah dan membuat komposisi musik menjadi lebih dinamis.

Apa yang ditulis pada sharing kali ini mungkin tidak begitu saja berlaku pada kasus anda, maka gunakan guideline ini untuk berlatih, bereksperimen, dan ciptakan soundmu sendiri.

Beserta artikel ini, terdapat sound sample agar kamu bisa membandingkan perubahan sound tiap langkah yang dilakukan dan sebagai bahan pembelajaran.

Jadi saya punya sebuah track bass DI which is well played and have pretty sounding tetapi masih terdengar terlalu lembek dan sangat berdinamika.

link : http://soundcloud.com/distorsi/bass-di

Langkah pertama yaitu duplicate track tersebut menjadi 2 track yang sama persis

Track pertama
Waves CLA Bass > Waves CLA 76 > DMG Audio EQuality

CLA Bass digunakan hanya untuk memberikan sedikit color terhadap tune nya dan sedikit distorsi which is barely noticeable.

Settings: Bass di 0-1 db dengan opsi sub. Treble di 0-3 db dengan opsi honk, compress di 0-1 db denga opsi push, sub dimatikan, distortion di sekitar -10db dengan opsi growl, pitch dimatikan.

Selanjutnya saya menggunakan Equality, but most EQ will work well too. Low pass dengan 12db slope di sekitar 3500 khz atau lebih rendah tergantung selera anda dan high pass dengan 12 db slope di 30-40 hz. Saya juga melakukan wide scoop di 500Hz beberapa db

And then I am squishing the crap out of the bass (compression with low thresold, 4:1-10:1 depending on taste, slow attack, fast release)


link :http://soundcloud.com/distorsi/bass-track-1-processed

Track Dua
Waves CLA 76 > Mokafix NoAmp! > DMG Audio Equality
Saya mensetting compressor sama dengan track pertama, tapi kuncinya adalah saya menambahkan distorsion SETELAH compression untuk mendapatkan detail dari not yang dimainkan.

Saya menggunakan NoAmp! yang menyerupai Sansamp Bass Driver which is FREE sebagai pendistorsi track bass kedua.

Setting yang saya gunakan di sini adalah knob volume di arah jam 11, low dan high di arah jam 12, drive di arah jam 10, classic, clean british. Setting yang saya lakukan bukanlah patokan mutlak, feel free to experimentalize

EQ high pass dengan 6 atau 12 db slope di sekitar 500Hz (dengan tambahan sedikit wide-ish scoop di sekitar 450Hz) dan low pass dengan 12db slope di sekitar 4500khz


link : http://soundcloud.com/distorsi/bass-track-2-processed

Buat buss untuk bass, dan route 2 track bass yang sudah diproses secara terpisah kedalam buss tersebut. Atur volume level 2 track tersebut (saya pribadi prefer non-distorted bass di 0db and distorted bass di -15db)


link : http://soundcloud.com/distorsi/bass-buss-unprocessed

Pada buss tersebut saya menambahkan limiter untuk menjinakan “jumping notes” dan EQ dengan Equality high pass 50 hz, wide-ish scoop di 300hz beberapa db dan boost beberapa db di 4 khz. Dan tadaaa now you’re hearing beast sounding bass. Trik mixing semacam ini walaupun tidak mutlak, seringkali ampuh digunakan pada lagu-lagu bergenre metalcore, hardcore, death metal, dan semacamnya yang membutuhkan bass sebagai “daya hancur” extra penyokong gitar.



link : http://soundcloud.com/distorsi/bass-buss-processed

That’s it for the bass! Ingatlah bahwa korelasi volume level bass dan gitar (secara khusus, dan overall lagu pada umumnya) is SUPER HYPER MEGA CRUCIAL. Jika volume level bass terlalu kecil maka lagu akan terdengar kosong dan jika volume level bass terlalu besar, bass akan terlalu mendominasi dan overpowering keseluruhan lagu.
 
Copyright 2010 HOME RECORDING TUTORIAL. All rights reserved.
Sewa Kamera Jakarta