Showing posts with label Hardware Knowledge. Show all posts
Showing posts with label Hardware Knowledge. Show all posts

20 November 2024

Mixing audio menggunakan headphone vs speaker monitor

 

Mixing audio menggunakan headphone dan speaker monitor memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pilihan di antara keduanya sangat tergantung pada situasi, preferensi pribadi, dan lingkungan kerja. Berikut adalah penjelasan detail perbedaannya:


1. Perbedaan dalam Karakteristik Monitoring

Headphone

  • Keunggulan:

    • Isolasi Suara: Headphone mengisolasi suara dari lingkungan luar, memungkinkan Anda mendengar detail kecil dalam mix tanpa gangguan.
    • Fokus pada Detail: Frekuensi tinggi dan rendah lebih jelas terdengar, membantu mendeteksi noise, klik, atau masalah kecil lainnya.
    • Mobilitas: Ideal untuk situasi mobile atau lingkungan yang tidak ideal seperti ruangan tanpa akustik yang baik.
    • Biaya: Lebih terjangkau untuk mendapatkan kualitas suara yang baik dibandingkan speaker monitor.
  • Kelemahan:

    • Pencitraan Stereo Berlebih: Headphone sering memberikan efek stereo yang lebih lebar daripada realitasnya, sehingga penempatan elemen dalam ruang stereo bisa kurang akurat.
    • Keseimbangan Frekuensi: Headphone biasanya memiliki karakteristik suara yang berbeda, seperti bass yang diperkuat atau frekuensi tertentu yang diprioritaskan, membuat hasil mix kurang objektif.
    • Kelelahan Pendengaran: Penggunaan headphone dalam waktu lama dapat menyebabkan kelelahan telinga lebih cepat.

Speaker Monitor

  • Keunggulan:

    • Representasi Realistis: Speaker monitor dirancang untuk memberikan respon frekuensi yang lebih rata (flat), sehingga Anda bisa mendengar audio sebagaimana adanya.
    • Pencitraan Ruang: Dengan speaker monitor, Anda mendapatkan representasi ruang stereo yang alami, sehingga penempatan elemen mix lebih akurat.
    • Resonansi Ruangan: Memberikan gambaran tentang bagaimana mix akan terdengar di lingkungan nyata.
  • Kelemahan:

    • Dipengaruhi Akustik Ruangan: Speaker sangat bergantung pada kondisi ruangan. Jika ruangan tidak dirawat akustiknya, frekuensi tertentu (terutama bass) bisa berlebihan atau kurang terdengar.
    • Biaya: Speaker monitor berkualitas cenderung lebih mahal daripada headphone dengan kualitas serupa.
    • Gangguan Lingkungan: Tidak cocok untuk lingkungan yang bising atau ketika Anda harus menjaga kebisingan (misalnya, di malam hari).

2. Aspek Teknikal

AspekHeadphoneSpeaker Monitor
Respon FrekuensiCenderung lebih subjektif (tergantung model)Lebih flat dan akurat (dalam ruangan ideal).
Pencitraan StereoLebar, cenderung over-separated.Alami, sesuai dengan realitas pendengaran.
BassDapat terasa berlebih/kurang (headphone tertutup).Tergantung akustik ruangan, bass lebih terasa fisiknya.
Lingkungan KerjaTidak tergantung ruangan.Memerlukan ruangan dengan akustik baik.

3. Kapan Menggunakan Headphone?

  • Situasi:

    • Ketika bekerja di ruangan tanpa perlakuan akustik.
    • Saat membutuhkan mobilitas tinggi.
    • Untuk mendeteksi detail seperti noise, popping, atau artefak kecil.
    • Ketika tidak ingin mengganggu orang di sekitar.
  • Tips:

    • Gunakan headphone open-back untuk pencitraan stereo yang lebih alami dan mengurangi kelelahan telinga.
    • Selalu bandingkan hasil mix dengan speaker monitor atau headphone lain untuk referensi.

4. Kapan Menggunakan Speaker Monitor?

  • Situasi:

    • Ketika bekerja di ruangan dengan perlakuan akustik yang baik.
    • Untuk memeriksa keseimbangan keseluruhan, terutama dalam low-end (bass).
    • Saat Anda ingin memastikan mix terdengar baik di berbagai sistem (car test, home audio, dll.).
  • Tips:

    • Pastikan penempatan speaker benar: sejajar dengan telinga dalam bentuk segitiga sama sisi dengan posisi duduk Anda.
    • Gunakan monitor ukuran kecil (5–7 inci) untuk ruang kecil dan ukuran besar untuk ruangan besar.

5. Strategi Kombinasi Headphone dan Speaker Monitor

Pendekatan terbaik adalah menggunakan keduanya secara bergantian untuk mendapatkan perspektif berbeda. Berikut adalah langkah strategis:

  1. Mixing Awal di Speaker Monitor:

    • Fokus pada keseimbangan keseluruhan, panning, dan dinamika.
  2. Pemeriksaan Detail di Headphone:

    • Cari noise kecil, artefak, atau masalah pada frekuensi tinggi/rendah.
  3. Bandingkan di Beberapa Sistem:

    • Gunakan speaker tambahan atau perangkat lain untuk memastikan mix terdengar baik di berbagai situasi (car test, earphone, dll.).

Kesimpulan

  • Gunakan headphone untuk mendeteksi detail dan bekerja di lingkungan dengan akustik buruk atau dalam kondisi mobile.
  • Gunakan speaker monitor untuk mendapatkan representasi yang realistis dan mengevaluasi keseluruhan mix dalam ruang yang ideal.
  • Kombinasi keduanya adalah cara terbaik untuk mencapai hasil mix yang konsisten dan profesional.

Audio Interface terbaik untuk Home Recording

Memilih audio interface dengan preamp terbaik bergantung pada kebutuhan Anda, seperti anggaran, jumlah input, dan kualitas yang diinginkan. Berikut adalah beberapa pilihan audio interface dengan preamp berkualitas tinggi yang sering direkomendasikan:


1. High-End Audio Interfaces

  • Universal Audio Apollo Twin X

    • Keunggulan: Preamplifier Unison bawaan yang dapat meniru karakter preamp analog klasik. Sangat cocok untuk profesional yang mencari kualitas suara superior.
    • Fitur lain: DSP bawaan untuk efek real-time tanpa latensi.
    • Konektivitas: Thunderbolt 3.
    • Harga: Premium (di atas $1,000).
  • Antelope Audio Zen Go Synergy Core

    • Keunggulan: Preamplifier transparan dengan AD/DA conversion kelas atas. Dilengkapi efek Synergy Core berbasis DSP.
    • Fitur lain: Teknologi clocking canggih untuk jitter minimal.
    • Konektivitas: USB-C.
    • Harga: Mid-to-High (sekitar $500–$800).




2. Mid-Range Audio Interfaces

  • Focusrite Clarett+ 4Pre

    • Keunggulan: Preamplifier Clarett+ memberikan headroom tinggi, noise rendah, dan suara transparan.
    • Fitur lain: Mode "Air" untuk menambahkan karakter analog preamp Focusrite ISA klasik.
    • Konektivitas: USB-C atau Thunderbolt.
    • Harga: Menengah (sekitar $500).
  • Audient iD44

    • Keunggulan: Preamplifier yang terkenal karena transparansi dan detailnya. Cocok untuk rekaman profesional dengan harga terjangkau.
    • Fitur lain: ADAT untuk memperluas jumlah channel.
    • Konektivitas: USB-C.
    • Harga: Menengah (sekitar $700).




3. Entry-Level Audio Interfaces (Budget-Friendly)

  • Focusrite Scarlett 2i2 (3rd Gen)

    • Keunggulan: Preamplifier yang bersih dengan mode "Air" untuk menambah karakter suara. Pilihan populer untuk home recording.
    • Fitur lain: Latensi rendah dan desain portabel.
    • Konektivitas: USB.
    • Harga: Terjangkau (sekitar $150).
  • Audient iD4 MkII

    • Keunggulan: Preamplifier kelas studio dengan karakter suara transparan. Salah satu preamp terbaik di kelasnya.
    • Fitur lain: Knob scroll control dan output headphone berkualitas tinggi.
    • Konektivitas: USB-C.
    • Harga: Terjangkau (sekitar $200).
  • SSL 2+

    • Keunggulan: Preamplifier yang dirancang oleh Solid State Logic, memberikan "4K Legacy Mode" untuk meniru suara konsol SSL.
    • Fitur lain: Dua headphone output dan MIDI I/O.
    • Konektivitas: USB-C.
    • Harga: Terjangkau (sekitar $300).





Rekomendasi Berdasarkan Kebutuhan:

  1. Kualitas Tertinggi & Anggaran Besar: Universal Audio Apollo Twin X atau Antelope Zen Go.
  2. Rekaman Profesional dengan Anggaran Sedang: Focusrite Clarett+ atau Audient iD44.
  3. Home Studio & Pemula: Focusrite Scarlett 2i2, Audient iD4 MkII, atau SSL 2+.

Semua opsi di atas menawarkan preamp berkualitas tinggi, tetapi pilihan Anda sebaiknya didasarkan pada kombinasi fitur, jumlah input/output yang dibutuhkan, dan anggaran. 

Apa perbedaan Audio interface dan Mixer?


Audio interface dan mixer adalah perangkat yang digunakan dalam pengolahan audio, tetapi mereka memiliki fungsi dan aplikasi yang berbeda. Berikut adalah penjelasan detail tentang perbedaan keduanya:


1. Definisi dan Fungsi Utama

  • Audio Interface
    Audio interface adalah perangkat yang menghubungkan mikrofon, instrumen, atau perangkat audio lainnya ke komputer. Fungsi utamanya adalah untuk mengubah sinyal analog menjadi digital (A/D conversion) dan sebaliknya (D/A conversion). Audio interface sering digunakan untuk rekaman, produksi musik, dan mixing digital di dalam komputer.

  • Mixer
    Mixer adalah perangkat yang menggabungkan, memproses, dan menyeimbangkan berbagai sumber audio dalam sinyal analog atau digital. Mixer sering digunakan dalam aplikasi live sound, broadcasting, atau studio untuk mengontrol tingkat suara dan efek secara langsung.


2. Fokus Penggunaan

  • Audio Interface

    • Rekaman di studio atau di rumah (home recording).
    • Produksi musik menggunakan Digital Audio Workstation (DAW).
    • Fokus pada kualitas konversi audio dan jumlah input/output untuk perangkat komputer.
    • Umumnya digunakan untuk satu atau beberapa sumber input dalam satu waktu.
  • Mixer

    • Mengatur audio secara langsung dalam situasi live (konser, acara, penyiaran).
    • Dapat memproses banyak saluran (channels) secara simultan.
    • Cocok untuk pengaturan audio di tempat seperti rumah ibadah, studio siaran, atau produksi live streaming.

3. Fitur Utama

  • Audio Interface

    • Input/Output: Jumlah input/output terbatas, biasanya berkisar dari 2 hingga 8 untuk versi konsumen.
    • Preamplifier: Tersedia untuk memperkuat sinyal dari mikrofon atau instrumen.
    • Latensi: Dirancang untuk meminimalkan latensi saat digunakan dengan komputer.
    • D/A dan A/D Conversion: Komponen penting untuk menghasilkan kualitas rekaman yang jernih.
  • Mixer

    • Channel Strips: Terdapat kontrol untuk volume, EQ (equalizer), pan, efek, dan aux sends pada setiap channel.
    • Built-in Effects: Beberapa mixer memiliki efek bawaan seperti reverb, delay, atau compressor.
    • Routing: Lebih fleksibel dalam pengaturan output ke berbagai perangkat.
    • Analog vs Digital: Mixer bisa berupa analog (manual) atau digital (dengan fitur tambahan seperti memori preset).

4. Interaksi dengan Komputer

  • Audio Interface:
    Dirancang untuk bekerja langsung dengan komputer melalui USB, Thunderbolt, atau FireWire. Kompatibilitasnya dengan DAW sangat penting.
    Contoh: Focusrite Scarlett, Audient iD Series.

  • Mixer:
    Tidak semua mixer bisa terhubung ke komputer. Mixer digital tertentu dapat berfungsi sebagai audio interface, tetapi mixer analog biasanya memerlukan perangkat tambahan.
    Contoh: Behringer X32 (digital), Yamaha MG10XU (analog dengan interface USB).


5. Mobilitas dan Portabilitas

  • Audio Interface:
    Biasanya lebih kecil dan ringan, mudah dibawa untuk rekaman mobile.
    Desain minimalis karena fokus pada input/output.

  • Mixer:
    Mixer cenderung lebih besar, terutama jika memiliki banyak channel. Cocok untuk digunakan di tempat tetap atau acara besar.


6. Contoh Penggunaan

  • Audio Interface:

    • Seorang musisi merekam vokal dan gitar ke komputer.
    • Produser menggunakan DAW untuk mixing dan mastering.
  • Mixer:

    • Sound engineer mengatur audio untuk konser live.
    • Operator mengelola banyak sumber suara untuk siaran radio atau televisi.

Kesimpulan

  • Gunakan audio interface jika Anda fokus pada produksi musik atau rekaman digital dengan komputer.
  • Gunakan mixer jika Anda membutuhkan pengaturan audio langsung dengan banyak input, terutama dalam situasi live atau siaran.

Jika Anda membutuhkan kedua fungsi, ada perangkat hybrid seperti mixer digital yang juga dapat bertindak sebagai audio interface.

19 November 2024

Apa yang dibutuhkan untuk membuat Home Recording Studio

 

Membuat home recording sederhana membutuhkan beberapa alat, perangkat lunak, dan ruang yang mendukung untuk merekam audio berkualitas. Berikut adalah penjelasan rinci:


1. Perangkat Keras (Hardware)

a. Komputer atau Laptop

  • Spesifikasi minimal:
    • Prosesor: Intel Core i5 atau setara.
    • RAM: Minimal 8 GB.
    • Penyimpanan: SSD lebih baik untuk kecepatan akses file.
  • Fungsinya untuk menjalankan perangkat lunak perekaman dan menyimpan file audio.

b. Audio Interface

  • Alat untuk menghubungkan mikrofon atau alat musik ke komputer dengan kualitas audio yang baik.
  • Contoh merek: Focusrite Scarlett, PreSonus AudioBox.
  • Fitur penting:
    • Input XLR untuk mikrofon.
    • Input jack untuk instrumen (gitar, keyboard).
    • Output untuk headphone atau speaker monitor.

c. Mikrofon

  • Mikrofon Kondensor:
    • Cocok untuk vokal dan instrumen akustik.
    • Contoh: Audio-Technica AT2020, Rode NT1A.
  • Mikrofon Dinamis:
    • Cocok untuk vokal langsung atau rekaman live.
    • Contoh: Shure SM58.

d. Headphone Studio

  • Pilih headphone closed-back untuk memonitor suara tanpa bocor.
  • Contoh: Audio-Technica ATH-M50x, Beyerdynamic DT 770 Pro.

e. Speaker Monitor (Opsional)

  • Untuk mendengar hasil rekaman secara akurat.
  • Contoh: KRK Rokit, Yamaha HS5.

f. Kabel dan Stand Mikrofon

  • Kabel XLR untuk mikrofon.
  • Stand mikrofon agar mikrofon stabil selama rekaman.

g. Pop Filter

  • Alat untuk mengurangi bunyi "plosive" (P, B) saat merekam vokal.

h. Instrumen Musik (Opsional)

  • Gitar, keyboard MIDI, atau instrumen lain sesuai kebutuhan.

2. Perangkat Lunak (Software)

a. Digital Audio Workstation (DAW)

  • Perangkat lunak untuk merekam, mengedit, dan memproduksi audio.
  • Pilihan populer:
    • Gratis: Audacity, Cakewalk by BandLab.
    • Berbayar: Ableton Live, FL Studio, Logic Pro X (khusus Mac), Cubase.

b. Plugin dan Virtual Instruments

  • VST Plugin: Untuk efek suara, mixing, dan mastering.
  • Virtual Instruments: Untuk menciptakan suara alat musik digital (drum, piano, dll.).

3. Ruang Rekaman

  • Ruangan Kedap Suara:
    • Minimalkan pantulan suara dengan busa akustik atau tirai tebal.
  • Penyusunan Ruang:
    • Letakkan mikrofon jauh dari dinding kosong untuk mengurangi gema.
  • Isolasi:
    • Gunakan karpet atau kain tebal untuk menyerap suara.

4. Langkah-Langkah Pengaturan

  1. Siapkan Perangkat Keras:

    • Hubungkan mikrofon dan instrumen ke audio interface.
    • Hubungkan audio interface ke komputer.
  2. Instal Perangkat Lunak:

    • Pasang DAW pilihan dan pastikan audio interface dikenali oleh komputer.
  3. Atur Setting Audio:

    • Pilih audio interface sebagai perangkat input dan output di DAW.
    • Tentukan resolusi audio (contoh: 44.1 kHz, 24-bit).
  4. Mulai Rekaman:

    • Buat track baru di DAW.
    • Sesuaikan level input agar tidak terlalu rendah atau overloading.
  5. Mixing dan Mastering:

    • Tambahkan EQ, kompresi, dan reverb untuk memperbaiki kualitas suara.
    • Mastering untuk memastikan hasil akhir terdengar seimbang.

5. Anggaran (Ukuran Home Recording Studio)

  • Low Budget: Rp 3-5 juta (mikrofon USB + headphone + laptop sederhana).
  • Medium Budget: Rp 7-15 juta (mikrofon kondensor + audio interface + laptop/PC).
  • High Budget: Rp 20 juta ke atas (peralatan profesional + ruangan akustik).

Dengan perangkat dan setup sederhana ini, Anda dapat mulai membuat rekaman berkualitas di rumah. 

10 September 2015

Review Klotz TITANIUM - Superb Sound Quality PLUS Minimal Microphony

Dalam dunia perkabelan audio/video, performa dan nama Klotz sudah tidak terbantahkan lagi kualitasnya sejak tahun 1979. Baik di Jerman maupun perusahaan-perusahaan instalasi - rental sound system - perlengkapan multimedia kelas dunia mempercayakan performa dan konsistensi produk-produk Klotz.

Dalam dunia musik, dulu, para musisi khususnya gitaris dihadapkan pada 2 pilihan kabel untuk mengakomodasi kebutuhan mereka; yaitu great sound atau low cable microphony. Mungkin termasuk Anda. Tapi saat ini, Klotz TITANIUM menggaransi mampu mengakomodasi keduanya; Superb Sound Quality PLUS Minimal Microphony dalam satu kabel!


Spesifikasi

  • Ultra-low capacitance (75 pF/m)
  • High-quality 99.95 cent copper conductor
  • foamed PE insulation
  • Separating layer to optimize signal
  • highly conductive PE screen
  • spiral shield of ultra-fine copper wire
  • abrasion-resistance highly flexible outer jacket.


Klotz benar-benar berhasil membuat terobosan baru yang revolusioner dalam hal design maupun teknologi. Dengan konduktor tembaga berkualitas tinggi (99,95%) dan ultra-low capacitance 75 pF/m, Klotz TITANIUM tidak hanya memastikan sinyal dan tone yang superb; tetapi juga sangat rigid dan tangguh dalam mengeliminasi subsonic noise, motion noise serta berbagai interference. Dengan kemampuan tersebut, ditambah konektor Neutrik 2p, 6,35 mm (terdapat pilihan silentPLUG™) yang dikombinasikan dengan reputasi dan pengalaman yang dimiliki Klotz dalam teknologi kabel selama bertahun-tahun, membuat kabel ini benar-benar unik dan special.


SilentPLUG™ adalah sebuah teknologi pada konektor yang memiliki kemampuan switched ON ketika dicolokkan dan swithed OFF (mute signal) pada saat konektor dilepas dari gitar, secara otomatis. Pada kabel dan konektor pada umumnya, pada saat konektor di unplugged dari gitar pada posisi ampli masih ON, akan terdengar lagi suara noise atau hum. Dengan SilentPLUG™Jadi Anda tidak perlu mengecilkan volume atau memencet fitur stand by pada ampli. Cukup lepas konektor, maka SilentPLUG™ akan bekerja dengan sendirinya me-mute suara 'ribut' pada ampli.

Kabel ini diproduksi di Jerman. Setiap kabel melewati serangkaian test sebelum diantar ke pemakai. Salah satunya adalah metode battery test untuk memastikan kabel dapat menghantarkan sinyal dengan baik. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Itulah kenapa Klotz sangat percaya diri menggaransi setiap pemakai TITANIUM dengan garansi seumur hidup!

Kabel premade ini memiliki alternatif panjang 3 meter, 4,5 meter, 6 meter dan 9 meter. Akan tetapi yang masuk ke Indonesia ukuran 3 meter dan 6 meter. Pasti sudah pada tahu khan, semakin panjang kabel semakin banyak sinyal yang di ”korupsi” (signal loss) dan semakin menurunkan clarity sinyal yang dibawa.


Summary
Dengan material konduktor berkualitas tinggi dan capacitance yang rendah, Klotz TITANIUM yang tergolong high-end premade cable ini memiliki transparansi sinyal yang maksimum, akan tetapi memiliki kemampuan meng-kompres pada level ultra rendah! Hasilnya, sound yang dihasilkan benar-benar outstanding!

Review ini disadur dari Blog Kairos Multi Jaya

Audio-Technica ATH-M70x Review

Pada kesempatan ini saya akan membahas lagi produk-produk Audio-Technica, terutama Headphones.

Awal post yang lalu, saya berkesempatan untuk mencoba headphone Audio-Technica seri terbaru untuk pertama kalinya, ATH M70x (gress.... baru datang dari pabrik). Sebenarnya yang saya tunggu-tunggu adalah saudara kembarnya: ATH R70x open-back. Tapi karena masih belum datang, mari ikuti saya mencoba kemampuan saudara kembarnya (ATH-M70x red).



Begitu membuka box-nya, saya langsung disuguhkan dengan headphone bag warna hitam yang cocok untuk dibawa-bawa ataupun untuk ditaruh didalam tas. Isi bag-nya, tentu saja ATH-M70x! plus didalamnya terdapat tas kecil yang memuat semua extended cord untuk ATH-M70x, mulai dari yang pendek, sedang, sampai yang panjang.



Okay langsung saja kita review. Secara ukuran, driver di headphone ini lebih besar dari pada seri sebelum-sebelumnya, maka saya tertarik untuk mendengarkan respon di low-end nya. Playlist lagu yang saya siapkan untuk review kita kali ini adalah “Toto – I Will Remember” dan “Jennifer Warnes – Somebody, Somewhere”. Lagu-lagu tersebut memiliki low-end yang cukup rendah dan dynamic range yang bervariasi.

Dalam lagu Toto, pada awal lagu langsung terdengar respon low-end dari floor tom yang benar-benar akurat. Menurut saya headphone ini memiliki kualitas frekuensi low yang cukup flat, tidak over. Dan driver headphone ini cukup gesit dalam mengatasi perubahan transient yang cukup cepat. Detail hi hat di lagu ‘I Will Remember’ ini pun sangat pas. Hal yang sering dijumpai pada headphone yang memiliki driver besar adalah problem untuk me-reproduksi suara di frekuensi tinggi, terutama pada saat berbarengan dengan frekuensi rendah seperti di lagu Toto ini.


Pada lagu selanjutnya, Jennifer, fokus saya adalah pada vocal Jennifer yang ditemani oleh bass yang cukup dominan. Suara Jennifer ter-reproduksi dengan sangat baik. Hal ini semakin meyakinkan saya bahwa headphone ini flat. Dan sekali lagi, respon di frekuensi tinggi sangat bagus.


Untuk soal kenyamanan, ear-cups headphone ini cukup nyaman. Setelah mendengarkan banyak lagu-lagu selama 2 jam, kuping saya masih cukup nyaman. Hanya saja saya tetap harus beristirahat minimal 5 menit setelah pemakaian lebih dari satu jam. Untuk bentuk fisik yang lumayan besar, headphone ini cukup ringan. Hal lain yang patut diperhatikan adalah bleed noise dari headphone ini yang relative kecil ketika sedang dipakai.

Singkat cerita, headphone ini sudah menemani saya selama satu minggu lebih dan saya pakai untuk semua pekerjaan saya mulai untuk critical listening, mixing dan mastering, maupun untuk sekedar santai mendengarkan lagu.


Kesimpulan saya headphone ini jelas lebih premium mengungguli kakak-kakaknya; M20x, M30x, M40x dan M50x), baik dalam hal teknis maupun kualitas suaranya. Saya akan merekomendasikan M70x untuk semua pekerjaan audio yang membutuhkan respon suara yang flat dan akurat.

Review ini disadur dari Blog Kairos Multi Jaya
Yang ditulis oleh Richard Frank Taihutu

Review Singkat Audio-Technica ATH-M20x, ATH-M30x dan ATH-M40x

Pada kesempatan ini saya akan membahas lebih banyak lagi tentang Headphone dari Audio-Technica, kali ini tiga headphone sekaligus yang kita akan bahas.

Line up yang kita akan bahas adalah dari seri professional headphones Audio-Technica, studio monitoring. Line up ini baru saja menambah keluarga baru dengan dua tipe sekaligus, yaitu ATH-M70x dan ATH-R70x (yang merupakan headphone open back pertama dari Audio-Technica). Tetapi yang akan saya bahas adalah seri M20x, M30x dan M40x.

Sewaktu sedang iseng di kantor pusat Kairos, saya mendapati tiga buah headphone Audio-Technica ex-demo ini. Karena latar belakang saya di dunia recording, saya tertarik untuk membandingkan ketiganya melalui DAW.


Baiklah, secara umum yang membedakan dari ketiganya adalah frequency response-nya, ketiganya memakai driver dengan diameter yang sama 40mm dengan magnet Neodymium. Impedansi relatif sama kecuali untuk M40x (35ohm). Secara fisik tidak banyak perbedaan, hanya saja ada fitur-fitur tambahan seperti detachable cable untuk M40x, perbedaan bentuk ear pads dari ketiganya, maupun rotate-able pads.

Namun yang menjadi perhatian saya adalah sonic quality dari headphone itu sendiri, untuk itu saya akan membandingkan ketiga headphone tersebut menggunakan DAW dan playlist lagu-lagu yang sudah saya kenal betul contour dan sonic quality nya. DAW yang akan saya pergunakan adalah Presonus Studio One 2, sedangkan untuk playlist lagunya adalah Linda Ronstadt “When You Wish Upon a Star” dan “Straighten Up dan Fly Right”.

ATH-M20x

Sesaat setelah intro flute dari lagu “When You Wish Upon a Star” diputar, saya dapat langsung mendengar udara dari pemain flute tersebut. Suara Linda pun terdengar natural. Sedikit coloration di mid frequency. Low end-nya pun terdengar tidak overpowered. Kemudian di lagu “Straighten Up dan Fly Right” saya mencoba mendengar kegesitan heaphone ini di lagu yang mempunyai trasient yang cukup cepat. Hasilnya sangat memuaskan, M20x cukup gesit untuk transient cepat.

ATH-M20x

ATH-M30x

Hal yang sama juga saya dengar disini, baik di track 1 maupun track 2 saya mendengar konsistensi di low frequency-nya, namun coloration di mid frequency-nya subtle sekali. Suara vocal Linda disini menjadi lebih warm dan hi-nya pun lebih enak didengar. Begitupun di transient yang cepat, headphone ini pun cukup gesit.

ATH-M30x

ATH-M40x

Disini saya menemukan contour yang lebih flat dari kedua headphone sebelumnya. Response frequency low-nya pun lebih berasa dibanding sebelumnya. Di track 1 suara vocal Linda menjadi sangat natural dan jernih. Saya pun dapat mendengar suara flute yang lebih bright di awal intro lagu ini. Respon transient cepat di track 2 pun terasa lebih gesit dari sebelumnya, hampir seperti saya mendengarkan headphone open back. Dan ketika di putar pada gain headphone yang cukup kencang pun saya masih mendapatkan clarity yang baik.

ATH-M40x


Kesimpulan
Pada waktu melakukan test diatas, gain dari masing-masing headphone relatif sama. Maximum gain sebelumclipping pun cukup tinggi. Pada Track 2 pun ketiga headphone bekerja dengan sangat baik pada lagu ini, mengingat transient di lagu ini sangat cepat dan eksplosif di dynamic range-nya.
Saya menemukan bahwa contour frequency di ketiga headphone ini sedikit berbeda satu dengan yang lainnya, M40x yang cukup flat dibanding yang lain. Dari sini saya dapat menarik kesimpulan beberapa aplikasi yang tepat untuk masing-masing headphone tersebut.

M20x sangat cocok sekali digunakan untuk sebagai headphone monitor pada saat recording, misalnya saja untuk kebutuhan tracking vocal, karakter headphone ini sangat nyaman sekali untuk suara vocal, coloration dimid frequency ini membantu membuat vocal lebih kedepan.

Sedangkan M30x lebih fleksibel untuk digunakan sebagai headphone monitor maupun untuk critical listening pada saat mixing ataupun mastering. Respon low yang sangat enak dan tidak berlebihan, serta sedikit sekalicoloration di mid-nya.

M40x ini adalah favorit saya, dengan karakter suara yang lebih flat dan dynamic range yang besar membuat headphone ini sangat cocok digunakan pada saat mixing atau pun mastering. Oh iya, kesimpulan saya diatas bukan berarti kedua headphone sebelumnya tidak bisa digunakan untuk mixing ataupun mastering loh.Frequency response dari M20x dan M30x sudah sangat bagus untuk digunakan sebagai reference untuk mixingmaupun mastering.

Sedikit tambahan yang cukup menarik, noise bleed dari ketiga headphone ini sangat kecil sekali, dan pad-nya pun sangat nyaman untuk digunakan dan tidak sakit di telinga walaupun untuk pemakaian yang lama sekalipun.

Review ini disadur dari Blog Kairos Multi Jaya
Yang ditulis oleh Richard Frank Taihutu

09 September 2015

Quick Review Focusrite Scarlett Solo - USB Audio Interface Untuk Home Recording

Lagi.. Salah satu Brand favorit Distorsi untuk peralatan audio, Focusrite, mengeluarkan model lain untuk salah satu koleksi yang populer, Audio Inteface seri Scarlett.

Focusrite Scarlett Solo, yup.. Model Audio Interface USB ini merupakan adik dari Focusrite Scarlett 2i2. Soundcard External ini jauh lebih simple dalam fitur dan penggunaannya dibanding dengan Audio Interface lain yang ada di pasaran.

Di produk ini anda akan mendapati 1 buah XLR input dan 1 buah 1/4" input, sangat cukup sekali untuk anda yang merekam satu-persatu track (seperti yang biasa di lakukan di Studio Recording Standard), hingga untuk kamu soloist yang merekam sekaligus Vocal dan Satu buah instrument (seperti gitar atau intrument lainnya)

Scarlett Solo mempunyai output dengan jenis RCA, cocok untuk anda yang tidak membutuhan kabel panjang ke Speaker Monitor karna jenis output ini Unbalance, semakin panjang kabel yang digunakan maka semakin tinggi kemungkinan loss signal. Namun anda tidak perlu khawatir, hingga panjang kabel ke speaker 4 meter masih aman kok :)


Output yang lain adalah Headphone Out yang berada di depan agar lebih mudah diakses untuk menyolok jack headphone anda.



Kualitas Preamp? Tentu saja Focusrite tidak mau kehilangan pamor atas salah satu Brand terbaik dalam pembuatan Preamp Audio, di Scarlett Solo ini anda tetap mendapatkan Preamp yang sama dengan Audio Interface dari seri Scarlett Lainnya, yup! Anda akan mendapakan Preamp dengan kualitas yang sama dengan Focusrite Scarlett 18i20!

Fitur lainnya yaitu Power Phantom 48v untuk Microphone Condenser atau Di Box passive, Instrument - Line Switch yang disesuaikan untuk apa inputnya (Instrument untuk guitar & bass - Line untuk keyboard / synth). Juga ada HALO LED yang berguna untuk leveling input, warna hijau aman, oranye hati-hati, merah berarti peak.

Focusrite Scarlett Solo menawarkan sample rate hingga 96kHz yang sangat cukup untuk keperluan recording, bahkan biasanya studio recording standard masih menggunakan 48kHz. Juga dapat merekam 24-bit



Berikut adalah Fitur Utama dari Focusrite Scarlett Solo :
  • Focusrite preamp built-in for phantom power
  • DI/line for guitar, bass or keys
  • 24-bit resolution audio quality (sample rates up to 96kHz)
  • Dynamic range of over 105dB
  • Gain halos give you a visualization of levels
  • Direct monitor switch
  • Large volume dial on front
  • Aluminum chassis build
  • Connect via USB 2.0
  • 1 XLR, 1 1/4″ inputs
  • 1 stereo RCA, 1 1/4″ outputs
  • Frequency response: 20 Hz – 20 kHz +/-0.3 dB
  • Kensington Lock slot

Dengan fitur dan keseluruhan, Focusrite Solo sebenarnya sangat mengesankan dengan harga yang di pasarkan. Jika anda mencari Audio Interface yang basic dengan fitur lengkap, anda tidak perlu ragu dengan Soundcard External ini. Focusrite adalah Brand besar dalam dunia audio, sehingga untuk merasa kecewa akan kualitas kemungkinan sangat kecil.

Dan nilai tambahan adalah di build quality dan ukuran, Focusrite Scarlett Solo memiliki body alumunium yang sangat kokoh dan rigid, dan memiliki ukuran yang sangat baik untuk dibawa kemana-mana. Jika anda butuh Audio Interface di panggung untuk keperluan Live, Scarlett solo lah jawabannya. Anda tidak memerlukan space yang besar untuk meletakannya, juga body yang kokoh akan mengurangi ke khawatiran anda jika produk ini jatuh / terinjak di atas panggung. Anda juga tidak memerlukan Power Adaptor, tinggal colok via USB saja.

Dan yang terakhir, anda akan mendapatkan banyak software bawaan! Gratis dan original, Tinggal download dari kertas kode yang ada di dalam box.

Software yang anda dapatkan adalah :
  • Ableton Live Lite 
  • Focusrite Scarlett plug-in suite
  • Novation Bass Station plug-in – VST / AU
  • 1GB of Loopmasters samples


So, jadi untuk siapa/apa Focusrite Scarlett Solo ini? 
Soloist? yup, untuk anda yang bernyanyi sambil main gitar atau keyboard, produk ini sudah pasti pas untuk kebutuhan anda!

Producer? yup, bagi anda yang menciptakan lagu sendiri dengan merekam satu persatu track, sangat cocok.

Kalau Home Recording Sewaan? Menurut pengalaman saya, dengan fitur yang ada di Audio Interface ini, sudah sangat cukup untuk merekam lagu-lagu klien anda :)

Kalau menurut anda, cukupkah produk ini untuk kebutuhan anda? Jika tidak, silahkan untuk berkomentar di kolom komentar dibawah :)

Saat artikel ini ditulis, Harga Focusrite Scarlett Solo adalah USD104.


29 November 2012

Alat-alat untuk studio rekaman sederhana

Sebenarnya, hal yang akan dibahas di artikel ini secara umum sudah dibahas di artikel lain yang berjudul Alat yang dibutuhkan untuk membuat studio rekaman audio sederhana yang dahulu pernah saya tulis. Namun kali ini saya coba untuk mengulanginya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan kepada saya.

Komputer
Yup.. Sudah tentu sekarang semua studio rekaman yang ada memerlukan komputer. Lalu akan muncul pertanyaan, "Komputer seperti apa yang saya butuhkan untuk keperluan studio saya?"

Untuk pertanyaan seperti ini, tidak ada jawaban yang "baku". Semakin bagus spesifikasi komputer yang anda miliki akan semakin baik. Bagaimana yang baik?

Oke... Let's say :
  • Processor i7
  • RAM 8GB
  • Harddisk 1TB

Apa itu cukup? Sangat cukup!
Kalau punya spesifikasi dibawah itu apakah bisa? Bisa banget!

Sebagai contoh :
  • Processor i3
  • RAM 4GB
  • Harddisk 500GB

Apakah dengan spesifikasi seperti itu dapat berjalan dengan baik? No Problemo!
Apakah dibawah itu bisa? Bisa aja, tergantung beberapa hal :
  • Berapa banyak track dalam suatu project
  • Berapa banyak plugins yang anda dipakai
  • Berapa berat plugins yang anda pakai
  • Berapa Buffer Size Driver anda

Mungkin ada faktor lain yang belum saya sebut, silahkan untuk menambahkannya sendiri :)

Lalu akan muncul pertanyaan, "Wah kalau komputer spesifikasi seperti itu sih sudah bagus, bagaimana kalau jauh dibawah itu?"

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menggunakan komputer dengan spesikasi sbb : 
  • Processor: intel pentium D 3ghz
  • Ram: ddr2 2gb
  • Hardisk: SATA 80 gb 7200rpm

Ada masalah dengan spesifikasi tersebut? Sedikit banyak... Saya harus rajin-rajin me-render dan mem-freeze track setelah memakai plugins yang diperlukan :D

So, jika pertanyaannya - Apakah komputer saya dengan spesifikasi bla.. bla.. bla... bisa digunakan untuk keperluan studio? jawaban enaknya adalah, silahkan coba sendiri, install software-software yang anda perlukan (Bisa di download Demo / Trial tergantung software apa yang ingin anda gunakan). lalu rasakan, apakah kuat? atau berat?

Kalo kuat dan tidak bermasalah, berarti... lanjuttt :D

Oke, ada pertanyaan lagi... Saya harus pakai Sistem Operasi (OS) apa? Berapa bit?
Itu tergantung software apa yang ingin anda pakai, cek minimum spesifikasi yang berada di masing-masing software.

Oke lanjut ke Audio Interface


Audio Interface
Apa itu Audio Interface?
Audio Interface juga sering disebut dengan Soundcard / Conveter, Nah untuk pertanyaan diatas, jawaban teknis saya tidak bisa membantu. Tapi untuk jawaban simple nya : Audio Interface adalah suatu alat yang membantu untuk mengkoneksikan microphone dan instrument lain (contohnya) ke komputer anda. Intinya Audio Interface mengkonversi signal analog menjadi digital. Belakangan ini, Audio Interface sudah dilengkapi dengan preamp, Mic input, Hi-z / Ints input, line input, dan berbagai input lainnya :D

Apa komputer / laptop saya tidak memiliki Audio Interface / Soundcard?
Hampir semua komputer masa kini sudah pasti memliki Audio Interface / Soundcard, yuk kita lihat gambarnya

Soundcard Onboard yang biasanya ada di PC

Soundcard Onboard yang biasanya ada di laptop

Lalu apa perbedaannya dengan Audio Interface khusus untuk recording / mixing / mastering?
Jika anda serius untuk membuat studio rekaman, anda mungkin tidak akan puas dengan hasil yang dihasilkan oleh Soundcard pada gambar diatas, Soundcard sepeti itu fitur nya sangat tidak lengkap, dan hanya dikhususkan untuk keperluan multimedia ataupun gaming (malah mungkin para gamer / pecinta film contohnya, juga tidak puas dengan soundcard onboard mereka). Conveter yang ada pada soundcard onboard seperti itu kualitasnya sangat rendah.

Beberapa kekurangan yang pernah ditulis oleh Mas Agus Hardiman adalah :


  1. Kualitas untuk merekam suara kurang bagus, banyak nya noise yang sudah pasti mengalahkan suara yang ingin anda rekam. biasanya soundcard onboard hanya bisa merekam maksimal 16bit), coba saja dibandingkan dengan soundcard yang memang di tujukan untuk spesialis rekaman yang bisa merekam maksimal 24bit bahkan 32bit!. sample rate? biasa nya soundcard onboard mempunyai sampling rate yang kecil, 44,1Khz, walaupun ada yang lebih seperti 48Khz namun tetap saja soundcard tersebut tidak disarankan untuk dipakai rekaman)
  2. Latency, atau beberapa orang menyebutnya delay. walaupun bisa di akali dengan driver ASIO4ALL namun tetap saja masih terasa latencynya.
  3. Koneksi masih menggunakan jack 3,5mm. Sedangkan instrumen musik pakai jack 1/4 atau kabel XLR atau kabel TRS.walaupun bisa diakali dengan extention, namun belum tentu extention tersebut malah membantu, bisa saja malah membuat hasil rekaman anda semakin tidak bagus.
  4. Kualitas AD/DA converter yang tidak di peruntukan untuk rekaman professional
So masih mau menggunakan Audio Interface Onboard? :D


Saya ingin membeli Audio Interface yang khusus untuk rekaman, hal-hal apa saja yang harus saya perhatikan?
Yang pertama adalah Budged!, yup pastikan budged anda mencukupi utnuk membeli Audio Interface yang memang dikhususkan untuk keperluan studio rekaman. Mungkin dimulai dari 1jutaan sudah terbilang bagus dan mendapatkan bonus fitur-fitur tambahan dan juga software bawaan :D

Contoh Audio Interface harga 1jutaan - Focusrite Scarlett 2i2 (atas) dan 2i4 (bawah)



Speaker Monitor
Speaker multimedia dengan Speaker monitor untuk studio rekaman jelaslah berbeda. Biasanya speaker multimedia tidak terdengar "jujur" karna telah mem-boost / cut pada frequency tertentu agar terdengar lebih enak. Berbeda dengan Speaker monitor untuk studio rekaman atau yang biasa disebut Speaker Flat. Speaker Flat tidak melebih-lebihkan frequency tertentu, terdengar jujur dan detail. Untuk karakter suara speaker flat mungkin berbeda-beda antara satu merk dan merk lain. Cara memilih Speaker Flat adalah dengan langusng mendengarkan di toko-toko yang anda percaya dengan membawa lagu refernsi anda (CD tentunya)

Harga speaker monitor dimulai dari harga 1jutaan hingga ratusan juta :D



headphone
Yup, kita akan membutuhkan headphone untuk studio rekaman kita, malah banyak yang suka mixing lewat headphone (walau banyak yang gk merekomendasikan sih).

Headphone sangat berguna sekali saat take vocal maupun sebagai referensi mixing.

Harga headphone berapa? Dari ratusan tibu hingga jutaan rupiah :)


Microphone
Nah ini salah satu alat yang kita butuhin juga. Microphone banyak jenisnya, mulai dari Dynamic, Condenser, dan Ribbon. Untuk take vocal, biasanya sih menggunkan Condenser, tapi tergantung source suaranya juga sih :D

Kalau untuk Accoustic guitar biasanya butuh 2 microphone, Dynamic dan Condenser.
Sama halnya jika mau nodong amplifier, biasanya butuh 2 mic juga.

Untuk condenser, dipastikan kita memerlukan Phantom Power, nah biasanya Audio Interface sekarang ini udah punya fitur Phantom Power, Kalaupun gk ada, berarti anda butuh supply 48v dari alat lainnya (misal mixer).


Lain-lain
Kalau "lain-lain" nya mau lengkap sih banyak, tapi karena ada batasan (studio sederhana), So gk perlu menjamah alat-alat lain yang malah bikin pusing :)

Alat-alat lain yang anda butuhkan adalah

  • Kabel - cari kabel dengan harga 100.000 / 3 meternya agar kualitasnya terjamin
  • Pop Filter
  • Stand Mic
  • Software
  • Dan sebagainya (ada yang mau bantu tambahkan? hehe)

27 November 2012

Focusrite Scarlett 2i4, USB Audio Interface


Setelah bahas secara umum tentang Focusrite Scarlett 2i4 di posting sebelumnya, nah mumpung sekarang saya pakai Focusrite Scarlett 2i4, yuk coba kita bahas secara mendetail tentang Focusrite Scarlett 2i4 ini :D

Saat pertama kali melihat Focusrite Scarlett 2i4 mungkin akan langsung terbayang dengan Focusrite Scarlett 2i2. Yup! memang Focusrite Scarlett 2i4 memang sekilas sangat mirip dengan Focusrite Scarlett 2i2, namun agak sedikit lebih besar apa bila disandingkan

 Focusrite Scarlett 2i2 (atas) dan Focusrite Scarlett 2i4 (bawah)


Didalam box anda akan menemukan :
  • Unit Focusrite Scarlett 2i4
  • Kabel USB
  • Kartu Garansi (1 tahun service & 6 bulan sparepart)
  • Petunjuk untuk mendownload driver
  • Petunjuk untuk mendownload software Focusrite scarlett plugins dan Ableton live lite gratis
  • Buku pentunjuk / manual





Seperti yang pernah saya tulis pada artikel sebelumnya, Focusrite Scarlett 2i4 memang memiliki fitur yang hampir mirip dengan Focusrite Saffire 6 USB, namun sebagai penerusnya, tentu saja Focusrite Scarlett 2i4 memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak terdapat di Focusrite Saffire 6 USB.

Focusrite Scarlett 2i4 memiliki buah 2 input, yang dimasing-masing memiliki High Quality Preamp dari Focusrite (Two award-winning Focusrite preamps). Tidak hanya itu, masing-masing channel input memiliki Pad button atau tombol Pad yang dapat memberikan anda keleluasaan dalam hal gain hingga 10dB.



Apakah hanya itu? Tentu tidak, Focusrite tidak lupa juga memberikan Inst Switch (Instrument Switch) yang dapat anda pilih (antara line dan inst). Gunanya adalah sebagai pengganti DI Box, apa gunanya DI Box? Coba baca saja artikel saya yang berjudul Apa fungsi dan kegunaan DI Box / Direct Box.

Tidak lupa juga,  Focusrite Scarlett 2i4 memiliki phantom power yang biasanya digunakan untuk microphone condenser anda.


Input Channel Focusrite Scarlett 2i4 dapat menggunakan Jack TS / XLR, jadi bisa combo mau pilih pakai koneksi instrument / line biasa (TS) atau koneksi mic yang biasa disebut canon (XLR). Untuk mendapatkan Phantom Power, tentu saja anda harus menggunakan koneksi XLR.


Yang seru di Focusrite seri Scarlett yaitu adanya LED signal halos, apabila mencapai peak, LED akan berubah warna menjadi merah. Dan apabila berwarna hijau, berarti masih aman.. lanjutt...


Focusrite Scarlett 2i4 memiliki 4 output RCA yang dua diantaranya juga memiliki koneksi TRS balance, jadi sangat cocok sekali untuk produce musik maupun live untuk para DJ.


Fitur-fitur lain yang tidak kalah penting yaitu adanya koneksi MIDI in/out. Juga Direct Monitor yang dapat di setting Mono maupun Stereo. Besarnya monitoring antara Direct Monitoring dan Playback juga dapat disesuikan sesuai kebutuhan. Tidak kalah penting yaitu pemilihan Headphone Source, jadi anda bisa memilih mau memonitoring dari output channel 1-2 atau 3-4 lewat headphone. Wow!! sepertinya dibanding dengan audio interface dengan harga sejenis, Focusrite Scarlett 2i4 ini mungkin memiliki fitur yang paling lengkap :D

Untuk penampilan, bentuk dan finishing yang sangat oke banget, pokoknya dibawa-bawa manggung live untuk band ataupun DJ gk akan malu-maluin, di balut dengan alumunium berwarna merah dan warna hitam yang sangat futuristik,  juga tekstur yang tidak licin saat digenggam merupakan nilai plus dari Focusrite Scarlett 2i4 :D

Focusrite Scarlett 2i4 juga dibekali dengan software yang mungkin anda sudah tahu, yaitu Ableton Live Lite dan Focusrite scarlett plugin.

Cara pemakaiannya pun simple, tinggal colok saja via USB (tanpa perlu adaptor lagi), lalu install Driver yang bisa anda download di Sini, Pada DAW / Sequencer, tinggal diganti Driver nya ke Focusrite USB 2 Driver.

Untuk output tinggal pilih, mau lewat RCA ataupun TRS, pada contoh gambar, saya memakai jack TRS balance.




Untuk input pun mudah, apabila ingin menggunakan gitar / bass tinggal colok via jack TS lalu switch nya diganti ke Ints. Dan untuk vocal (mic condenser), tinggal colok via XLR canon, lalu menghidupkan phantom powernya.


Apabila source audio gain nya terlalu besar dan menyebabkan peak (lampu lingkaran LED menjadi merah) walaupun knob gain sudah di kecilkan, saatnya tombol pad beraksi, maka anda akan mendapatkan keleluasaan lagi sekitar 10dB.


So, kesimpulannya adalah Focusrite Scarlett 2i4 adalah USB Audio Interface yang mungkin unggul didalam kelasnya, dari fitur hingga spesifikasi. Penampilan pun terlihat solid dan menawan karna tekstur dan warna cerah yang ditawarkan. Focusrite Scarlett 2i4 sangat cocok bagi anda yang ingin merekam di rumah dengan kualitas professional dan juga sangat cocok untuk para DJ untuk dibawa dalam live perform.

Informasi lebih lengkap dari Focusrite Scarlett 2i4 bisa anda lihat di Focusrite Scarlett 2i4

25 November 2012

Focusrite Scarlett 2i4

Pada bulan november kemarin, Focusrite menelurkan beberapa produk terbaru mereka yang iantaranya adalah Focusrite Forte, Focusrite iTrack Solo dan yang terakhir adalah Focusrite Scarlett 2i4. Sekilas, Focusrite Scarlett 2i4 mirip sekali dengan Focusrite Scarlett 2i2, namun dengan fitur Focusrite Saffire 6 USB.

Apakah Focusrite Scarlett 2i4 ini pengganti Focusrite Saffire 6 USB? Bisa dibilang seperti itu, karna sebelum Focusrite Scarlett 2i4 rilis, Focusrite Saffire 6 USB dikabarkan akan di stop produksi nya (discontinue). Lalu apakah semua fitur yang ada di Focusrite Scarlett 2i4 ini memiliki kelebihan dari pada Focusrite Saffire 6 USB? Yuk kita bahas dulu dari spesifikasi yang dipunya oleh Focusrite Scarlett 2i4 ini :)

Focusrite Scarlett 2i4 adalah Audio Interface / Soundcard / Conveter dengan koneksi USB, dan memiliki 2 buah input yang masing-masing memiliki Focusrite preamp (beserta Phantom Power dan Instrument switch), 4 line outputs RCA ( Dua diantara nya juga mempunyai konektor 1/4" balance TRS jack connection), dan koneksi MIDI in/out.

 

Desain bentuk Focusrite Scarlett 2i4 ini hampir sama dengan Focusrite Scarlett 2i2, finishing besi alumunium solid yang berwarna merah. Untuk fiturnya, hal mendasar yang membedakan dengan Focusrite Saffire 6 USB adalah pada sample rate dan koneksi USB nya. Focusrite Saffire 6 USB memiliki sample rate 48kHz/24-bit, sedangkan Focusrite Scarlett 2i4 memiliki sample rate 96kHz/24-bit seperti Focusrite Scarlett 2i2. Juga pada koneksi USB,  Focusrite Scarlett 2i4 menggunakan USB versi 2.0, berbeda dengan Focusrite Saffire 6 USB yang masih menggunakan USB versi 1.


Fitur lain yang tidak kalah penting adalah fitur PAD pada masing-masing input channel nya. Fitur PAD ini memberikan anda keluasaan headroom saat recording hingga 10db, jadi anda tidak perlu khawatir apabila source audio yang ingin direkam mempunyai gain yang sangat besar.

Focusrite Scarlett 2i4 ini sangat sesuai untuk anda yang sering mobile, Focusrite Scarlett 2i4 tidak memerlukan power supply tambahan (misal dari adaptor dan lain-lain), jadi tinggal colok ke laptop / pc / mac, dia bisa langsung dipakai untuk keperluan recording hingga live (DJ / band).



Feature yang bisa anda temukan di Focusrite Scarlett 2i4 :
  • Casing aluminum solid
  • High quality preamp (Two award-winning Focusrite preamps)
  • High quality conversion (24-bit/96kHz resolution)
  • Dual TRS/XLR front-panel inputs (Bisa untuk Mic, Guitar/Bass, dan juga sebagai line in)
  • Superb dynamic range
  • Halo indicators for optimum input levels (LED untuk mengetahui gain level input anda peak atau tidak)

Dengan segala kelebihan yang ada di Focusrite Scarlett 2i4, anda bisa menebusnya dengan harga sekitar $187 USD. Believe me, Dengan harga yang ditawarkan, Audio interface ini adalah Audio Interface yang bisa anda pilih karna memiliki fitur-fitur terbaik pada kelasnya.



04 August 2012

Apa fungsi dan kegunaan DI Box / Direct Box

Fungsi dan kegunaan Di Box atau Direct Box adalah, untuk mengubah sinyal Unbalance menjadi Balance. Agar sinyal dapat dikirim melalu kabel yang bemeter- meter panjangnya tanpa mengurangi kualitas sinyal secara signifikan. Oleh karena itu, peran Di Box untuk pertunjukan live sangat dibutuhkan, karena untuk kabel yang digunakan dari panggung ke mixer depan/FOH lumayan panjang, sekitar 50 meter kurang lebih. Umumnya DI Box digunakan untuk instrument seperti gitar, bass, keyboard, synthesizer dsb.

Kemudian bagaimana dengan rekaman, apakah peran DI Box dibutuhkan? Jawabannya tergantung apa yang digantung, hmmm.. maksud saya tergantung pada kabel yang digunakan. Kalau panjang kabel hanya berkisar 3 - 5 meter rasanya masih belum membutuhkan DI Box. Instrument Switch atau Hi-Z Switch aja sudah cukup.



Pada Behringer GI1000 terdapat fitur "Virtual 4x12 Cabinet Emulation" yang mengubah sinyal spekear menjadi sinyal line yang balance, maksudnya mixer FOH seolah membaca sinyal tersebut sama seperti dari microphone yang ditodong ke speaker kabinet. Ada beberapa cara pemasangan DI Box yang dapat digunakan. Misalnya, kita ingin mengambil karakter effect dan head amp. Secara bersamaan, dengan kata lain tidak menggunakan mic todong. Maka untuk urutannya adalah gitar --> effect --> input head --> input DI. sedangkan parallel outnya lgs masuk ke kabinet amp tsb.

Sedangkan untuk penggunaan mic todong, yang mana si gitaris ingin mengambil ketakter head dan effect secara terpisah. Maka urutanya adalah gitar --> effect --> input DI Box. Parallel outnya masuk ke input head amp. Sedangkan untuk rekaman jika anda ingin mengambil clean yang benar2 orisinil dari pick up gitar anda dan suara dari effect secara terpisah sehingga tidak membutuh dua kali take maka urutannya adalah gitar --> input DI Box. sedangkan parallel out --> effect --> input head amp. + microphone yang ditodongkan ke kabinet / DI Box tambahan, sehingga anda menggunakan dua channel terpisah untuk take gitar anda, aman dan simple bukan??

Direct ke Audio Interface / Soundcard? Yasudah tinggal gitar --> DI Box --> Audio Interface / Soundcard


Jadi, dari beberapa cara pemasangan DI Box diatas dapat kita simpulkan bahwa pemasangan DI Box itu semua tergantung pada kebutuhan si musisi itu sendiri, mana yang lebih baik untuk si musisi tersebut.

Lalu, apa perbedaan harga antara DI Box satu ke DI box lain sangat mempengaruhi kualitas suara / beda bunyi nya?

Menurut Bang Indaq :
Beda bunyi ada, tp harusnya ngk gitu signifikan krn fungsi dasarnya DI box hanya utk merubah sinyal dr unbalans ke balans. Bukan utk kolorisasi.

Klopun ada fitur tambahan apapun itu, plus 'casing' yg kuat utk segala medan misal menggunakan bahan baja alloy, ya ini yg bikin tambah mahal. Dan ini realistis banget krn setiap produk 'menjagokan' fitur dan durability/daya tahan produk tadi. Fitur plus inilah yg juga membuat harganya juga plus.

So kembali ke kebutuhan. Anda perlu yg gimana ? Simple, basic, dan casing ngk perlu sekuat baja alloy krn hanya perlu fitur dasar DI dan hanya dipakai indoor di studio, ATAU anda perlu fitur tambahan spt coloring yg kuat, casing tahan segala medan krn dipakai di lingkungan panggung outdoor yg kemungkinan utk rusaknya tinggi ?

Terakhir kembali ke bujeting anda sendiri utk DI box ini yg reasonable bagi anda pd angka brp. Yg terakhir ini cara yg paling realistis dan simple dalam memilih alat.



Disalin dari
freeantiplaque.blogspot.com

Referensi lain
Musiktek.com

19 February 2012

Soundcard? Audio Interface? Ini dia tips cara memilih sebelum anda membeli! Part 1

Banyak sekali kawan-kawan yang bertanya ke saya, entah lewat email, sms, ym, maupun lewat facebook. "Soundcard yang bagus untuk saya itu apa yah?" atau "Mau beli soundcard merek A, kira-kira bagus gk buat saya?" dan juga "Kira-kira bagusan mana mas, soundcard merek A atau merek B".

Nah setelah muter-muter cari referensi, akhir dapat juga. Artikel ini ditulis bersumber dari artikel Mas Agus Hardiman dari Musiktek. Saya minta ijin tulis lagi di blog Distorsi yah Mas Agus :)

Dari tiga pertanyaan tentang soundcard diatas yaitu :
  • Soundcard yang bagus untuk saya itu apa yah?
  • Mau beli audio interface / soundcard merek A, kira-kira bagus gk buat saya?
  • Kira-kira bagusan mana mas, soundcard merek A atau merek B?
Kita bisa membuat pertanyaan lagi dari pertanyaan-pertanyaan diatas. Loh? Kenapa? karna pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting untuk mengetahui Soundcard apa yang cocok untuk anda.

Oh iya sebelumnya, Soundcard adalah "kata" yang umum digunakan oleh orang, walaupun sebetulnya gk terlalu tepat atau pas. Istilah yang sering dipakai itu adalah Conveter / Audio Interface / Audio Card. Karena seperti yang telah di jelaskan di postingan saya sebelumnya yang berjudul Alat yang dibutuhkan untuk membuat studio rekaman audio sederhana  bahwa belum tentu sebuah CONVETER ataupun AUDIO INTERFACE berupa "kartu" yang dipasang di motherboard pada cpu komputer, karena saat ini CONVETER atau AUDIO INTERFACE ada yang berupa box, mixer dan lain-lain (soundcard eksternal dengan koneksi USB dan FIREWARE).

Oke kita mulai aja.

1. Berapa budged yang anda alokasikan?
Ini dia pertanyaan yang paling penting. Berapa dana atau budged yang anda alokasikan untuk membeli soundcard atau audio interface. Seperti yang kita tahu Soundcard atau Audio Interface khusus untuk rekaman yang ada di pasaran saat ini mempunya harga yang berbeda-beda.

Jadi mulailah dahulu berapa budged yang ingin anda alokasikan untuk membeli Soundcard atau Audio Interface.
Gambar 1. Budged

Dimulai dari yang paling murah mungkin sekitar 1juta hingga 2,5jutaan sudah terbilang bagus untuk merekam materi lagu-lagu anda secara professional. Punya dana lebih? Sudah tentu anda akan memiliki lebih banyak pilihan dan fitur yang lebih bagus :)

Mungkin masih banyak yang bertanya seperti ini :
"Mas di komputer PC / laptop saya sudah bisa mendengarkan lagu mp3 dengan winamp, dan juga bisa merekam materi saya kok? Kenapa harus beli lagi soundcard atau audio interface dengan harga yang tidak bisa dikatakan murah lagi?"

Yup, memang di PC ataupun Laptop anda akan menemukan Soundcard. Soundcard ini bernama soundcard onboard yang menempel di Motherboard komputer / laptop anda. Di Soundcard Onboard biasanya anda akan menemukan 3 buah lubang, 1 lubang stereo untuk output / headphone out. 1 lubang mic input dan juga 1 lubang line input.
Gambar 2. Soundcard Onboard

Tapi dengan memakai Soundcard Onboard, anda akan menemukan banyak sekali masalah. Beberapa masalah yang paling menonjol adalah :
  1. Kualitas untuk merekam suara kurang bagus, banyak nya noise yang sudah pasti mengalahkan suara yang ingin anda rekam. biasanya soundcard onboard hanya bisa merekam maksimal 16bit), coba saja dibandingkan dengan soundcard yang memang di tujukan untuk spesialis rekaman yang bisa merekam maksimal 24bit bahkan 32bit!. sample rate? biasa nya soundcard onboard mempunyai sampling rate yang kecil, 44,1Khz, walaupun ada yang lebih seperti 48Khz namun tetap saja soundcard tersebut tidak disarankan untuk dipakai rekaman)
  2. Latency, atau beberapa orang menyebutnya delay. walaupun bisa di akali dengan driver ASIO4ALL namun tetap saja masih terasa latencynya.
  3. Koneksi masih menggunakan jack 3,5mm Sedangkan instrumen musik pakai jack 1/4 atau kabel XLR atau kabel TRS.walaupun bisa diakali dengan extention, namun belum tentu extention tersebut malah membantu, bisa saja malah membuat hasil rekaman anda semakin tidak bagus.
  4. Kualitas AD/DA converter yang tidak di peruntukan untuk rekaman professional. Kalau Anda pernah rekaman dgn soundcard onboard & hasil rekamannya terasa lebih mendem (=kurang bright) atau malah hilang frekwensi bassnya dibandingkan dengan bunyi instrumen aslinya, nah itu dia pengaruh kualitas AD Converternya. AD converter adalah bagian dari soundcard yang mengubah data analog menjadi data digital (Input). Sedangkan DA converter mengubah data digital menjadi data analog (output).

So, masih mau pakai soundcard onboard lagi? :D

Jadi. yang bisa disimpulkan dari poin pertama adalah :
Menentukan budged yang anda alokasikan untuk membeli Soundcard atau Audio Interface saat ingin bertanya / membeli :) 

 
2. Kebutuhan audio yang anda inginkan
Bicara tentang kebutuhan, tak mungkin kalau kita tidak membicarakan tentang spesifikasi dari Audio Interface atau Soundcard yang ingin anda beli. Spesifikasi yang dimaksud adalah sebagai berikut :

A. Berapa jumlah channel input dan output yang diperlukan / yang anda butuhkan?
Ini pertanyaan yang sering sekali saya tanyakan. Berapa channel input dan output yang akan anda gunakan secara bersama-sama? 2 channel? 4 channel? 6 channel? 8 channel? atau lebih?

Nah misalnya anda hanya merekam instrument satu-persatu, tentu saja 2 channel input saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan anda.

Atau misalnya anda ingin merekam live accoustic dengan perlengkapan sebagai berikut :
  • 2 buah microphone untuk vocal utama dan backing vocal
  • 2 buah guitar accoustic
  • 1 buah bass
  • 1 buah cajon

Berarti ada membutuhkan 6 buah input channel apabila ingin merekam kesemua perlengkapan diatas pertrack secara bersamaan yang nanti bisa anda mixing secara leluasa. Atau apabila anda ingin merekam drum, berarti anda membutuhkan minimal 8 buah input channel atau lebih. Kalau merekam live full band butuh berapa input? Monggo di perkirakan sendiri :D

Oke yang barusan kita bahas adalah input channel. Kalau output channel? Minimal output channel tentu saja 2 buah output mono (stereo) untuk ke speaker monitor anda.

Tapi kok ada yang output channel nya lebih dari 2 channel? Nah itu bisa digunakan untuk kebutuhan yang lain. Sebagai contoh yaitu untuk outboard processor atau hardware FX eksternal. Juga sebagai monitoring saat anda live (untuk keperluan playback looping anda) ataupun untuk output ke sepasang speaker monitor yang lain di studio anda.

Contohnya adalah Focusrite Saffire PRO 24 DSP.
Gambar 3. Focusrite Saffire PRO 40 - input dan output

Focusrite Saffire PRO 40, Audio Interface murah dengan fitur lengkap ini memiliki
  • 8 channel input
  • 10 analog output
  • + 2 channel stereo untuk headphone di front panel.


Focusrite Saffire PRO 40 bisa di set sebagai berikut (Contoh) :
  • Output 1 dan 2 bisa digunakan untuk ke sepasang speaker monitor flat anda.
  • Output 3 dan 4 bisa anda gunakan untuk sepasang speaker multimedia / hi-fi yang gunanya sebagai perbandingan bagaimana suara hasil recording / mixing / mastering anda terdengar di speaker biasa ini
  • Output 5 dan 6 bisa anda gunakan untuk headphone monitoring untuk pemain / player (musisi) yang siap rekaman di ruangan lain (contoh nya untuk player drum, guitar accoustic, dll)
  • Output 7, 8 dan seterusnya bisa anda gunakan untuk outboard processor atau hardware FX eksternal, dsb, dsb, dsn :p

B. Apa yang ingin anda rekam di audio interface anda 
Nah ini nih yang harus anda soroti saat ingin membeli Audio Interface atau Soundcard. Pastikan di Audio Interface atau Soundcard yang anda pilih / yang ingin anda beli memiliki koneksi input yang dibutuhkan untuk merekam instrument atau sumber suara yang ingin anda rekam.

Sebagai contoh jika anda ingin merekam dari microphone, tentu saja anda membutuhkan mic input dengan koneksi XLR. Dan jika anda ingin merekam dari microphone condenser Audio Interface atau Soundcard anda wajib memilik Phantom Power (48V)!

Sebagai contoh di Focusrite Saffire PRO 40, di channel input audio interface ini anda dapat melihat bahwa semua input (8 channel) memiliki konektivitas yang dapat dipilih sesuai kebutuhan. Di 8 channel input yang ada, anda bisa "mencolokkan" kabel dengan konektivitas TRS (biasanya untuk instrument) maupun XLR (biasanya untuk microphone). Jadi benar-benar sangat fleksibel!
 


Gambar 4. XLR Connector


Gambar 5. TRS Male Connector



Coba lihat gambar input (Input 1 dan 2) yang berada di front panel dari Focusrite Saffire PRO 40 dibawah ini. Warna biru menunjukan input, dan warna merah menunjukan tombol Phantom Power untuk channel input 1 hingga channel input 4.
Gambar 6. Mic Input 1 & 2 dan Phantom Power

Nah, bagaimana untuk merekam instrument seperti bass ataupun gitar yang direct dari instrument langsung ke Audio Interface atau Soundcard tanpa melalui Multi-FX? Anda membutukan Instrument Inputs. Kalau di Focusrite Saffire PRO 40, anda tinggal klik tombol Inst yang berada di front panel.

Gambar 7. Instrument Input

Kalau di Audio Interface atau Soundcard lain, mungkin nama tombol nya adalah HI-Z Swicth. Contohnya pada Mackie Onyx Black Jack
Gambar 8. HI-Z Swicth pada Mackie Onyx Black Jack

Nah kalau merekam dari keyboard synthesizer atau output dari Multi-FX Guitar, dibutuhkan line input
Gambar 9. Line input (Juga sebagai Mic juga bisa)


Kalau mau merekam data MIDI? Tentu saja anda membutuhkan MIDI Input
Gambar 10. MIDI In/Out

C. Digunakan untuk apa? apakah untuk recording? apakah untuk mixing? atau apakah untuk mastering?
Nah bingungkan? emangnya beda yah Audio Interface / soundcard untuk recording dengan untuk mixing maupun mastering?
  • Jika anda ingin membeli Audio Interface / Soundcard dengan kebutuhan utamanya untuk recording, maka pilihlah Audio Interface atau soundcard yang dynamic range-nya (dynamic range input) dari A/D converter yang besar (semakin besar, semakin bagus)
  • Jika anda ingin membeli Audio Interface / Soundcard dengan kebutuhan utamanya untuk mixing dan mastering, maka pilihlah Audio Interface atau soundcard yang dynamic range-nya (dynamic range output) dari D/A converter yang besar (semakin besar, semakin bagus)
  • Diluar dari kedua poin sebelumnya, untuk mastering, cari soundcard yang bisa merekam dengan sample rate 192kHz dan minimal mempunyai 4 input/out agar dapat menggunakan insert hardware dari outboard processor. Tapi jika ingin mastering "in the box", 2 input/output sudah cukup kok :)


Untuk mengetahui beberapa hal diatas, anda bisa melihatnya pada spesifikasi dari Soundcard atau Audio Interface yang ingin anda beli kok.

Continue...
 
Copyright 2010 HOME RECORDING TUTORIAL. All rights reserved.
Sewa Kamera Jakarta